Memahami rupa dan rasa roti yang digunakan oleh Jemaat Mula-mula (abad pertama Masehi) membawa Anda kembali pada tradisi makan masyarakat Timur Tengah kuno. Pada masa itu, Perjamuan Kudus bukanlah ritual dengan potongan kecil atau hosti kering seperti yang sering kita lihat sekarang, melainkan bagian dari perjamuan makan bersama yang utuh, yang sering disebut Perjamuan Kasih (Agape Feast).
Berikut adalah gambaran detail mengenai ukuran, bentuk, bahan, dan rasa roti Jemaat Mula-mula:
1. Ukuran dan Bentuk
Roti yang digunakan berukuran cukup besar untuk dibagi-bagi, berbentuk bulat, pipih, dan agak tebal—sangat mirip dengan roti pita tebal atau flatbread tradisional Timur Tengah saat ini.
Istilah Alkitabiah "memecahkan roti" (breaking of bread) muncul karena karakteristik bentuk roti ini. Roti tersebut tidak dipotong rapi menggunakan pisau, melainkan dirobek menggunakan tangan oleh pemimpin jemaat, lalu dioper untuk dirobek bersama oleh seluruh anggota yang hadir sebagai simbol kesatuan tubuh Kristus.
2. Bahan Pembuatan
Bahan-bahannya sangat sederhana, alami, dan tanpa zat kimia pengawet:
Tepung: Menggunakan gandum utuh kuno (whole wheat) atau jelai (barley) yang digiling kasar menggunakan batu. Hasilnya, warna tepung cenderung kecokelatan dan teksturnya padat serat.
Air dan Garam: Dua komponen dasar wajib untuk mengikat adonan.
Ragi: Jemaat Mula-mula menggunakan dua jenis ragi tergantung momennya. Untuk ibadah mingguan biasa, mereka umumnya menggunakan roti beragi (artos dalam bahasa Yunani) yang difermentasi alami menggunakan sisa adonan asam (sourdough). Namun, jika ibadah tersebut bertepatan dengan musim Paskah, mereka menggunakan roti tidak beragi (azymos atau matzah).
3. Tekstur dan Rasa
Jika Anda mencicipinya hari ini, rasanya akan terasa sangat kontras dengan roti modern yang lembut dan manis:
- Rasa: Sangat gurih alami dengan dominasi rasa asli gandum yang kuat (earthy dan nutty). Roti ini sama sekali tidak manis karena tidak ada tambahan gula, mentega, atau susu.
- Tekstur: Cenderung padat, agak liat (chewy), dan mengenyangkan. Bagian luarnya sedikit keras karena dipanggang langsung di atas batu panas atau tungku tanah liat, namun bagian dalamnya tetap empuk jika dikonsumsi segar.
Esensi utama dari roti Jemaat Mula-mula adalah kesederhanaan dan kebersamaan. Roti tersebut merupakan makanan pokok sehari-hari yang biasa ada di meja makan mereka, yang kemudian dikuduskan menjadi sarana untuk mengingat pengorbanan Kristus secara komunal.
Resep Roti Tidak Beragi
Resep roti tidak beragi (yang dalam tradisi Yahudi disebut matzah) sebenarnya sangat sederhana. Karena Jemaat Mula-mula berakar dari tradisi Yahudi, mereka mengikuti aturan yang cukup ketat: adonan tidak boleh dibiarkan sempat mengalami fermentasi alami oleh ragi liar di udara.
Dalam tradisi aslinya, seluruh proses dari pertama kali air menyentuh tepung hingga roti masuk ke panggangan idealnya selesai dalam waktu kurang dari 18 menit.
Berikut adalah resep praktis yang bisa Anda coba di rumah untuk mendekati rupa, tekstur, dan rasa roti perjamuan Jemaat Mula-mula:
Bahan-Bahan
- 2 cangkir Tepung Gandum Utuh (Whole Wheat) – Untuk hasil tekstur kasar dan warna kecokelatan yang autentik. Anda juga bisa mencampurnya dengan tepung terigu serbaguna jika ingin tekstur yang sedikit lebih lembut.
- 1/2 hingga 3/4 cangkir Air Dingin – Jumlahnya disesuaikan sampai adonan bisa menyatu dengan pas.
- 1 sendok teh Garam (Opsional) – Jemaat mula-mula biasa menambahkannya untuk memberikan rasa gurih alami.
- 1 sendok makan Minyak Zaitun (Opsional) – Membantu adonan menjadi sedikit lebih lentur dan mencegah roti menjadi terlalu keras setelah dingin.
Cara Membuat
1. Mencampur Bahan (2 menit). Campurkan tepung gandum dan garam dalam wadah besar. Tuangkan minyak zaitun (jika menggunakan) dan air secara bertahap sambil diaduk dengan tangan hingga membentuk bongkahan adonan yang menyatu.
2. Menguleni dengan Cepat (3 menit). Pindahkan adonan ke atas meja bersih yang sudah ditaburi sedikit tepung. Uleni dengan cepat menggunakan telapak tangan hingga teksturnya padat dan tidak lengket lagi. Jangan menguleni terlalu lama agar kandungan gluten tidak membuat roti menjadi sekeras batu saat matang.
3. Membagi dan Menggilas (5 menit). Bagi adonan menjadi 4 sampai 6 bagian kecil. Bulatkan dengan tangan, lalu gilas masing-masing bagian menggunakan rolling pin atau botol kaca hingga menjadi lembaran bulat yang sangat tipis (dengan ketebalan sekitar 2 milimeter).
4. Menusuk Permukaan Adonan (2 menit). Gunakan garpu untuk menusuk-nusuk seluruh permukaan lembaran adonan secara merata. Langkah ini wajib dilakukan agar udara di dalam adonan bisa keluar saat dipanggang, sehingga roti tetap pipih dan tidak menggelembung menjadi kantong udara.
5. Memanggang di Atas Wajan (5 menit). Panaskan wajan datar dengan api sedang-tinggi tanpa minyak atau mentega. Panggang adonan selama 1 hingga 2 menit hingga muncul bercak cokelat kehitaman di bagian bawah, lalu balik dan panggang sisi satunya selama 1 menit. Angkat dan segera bungkus dengan kain bersih agar kelembapannya tidak hilang total.
Tips Penyajian: Roti ini paling ideal langsung dipecahkan dan dikonsumsi bersama setelah suhunya agak turun. Karena sama sekali tidak mengandung bahan pengawet atau pelembut buatan, roti tidak beragi ini akan cenderung cepat mengeras jika dibiarkan terbuka di udara bebas terlalu lama.
Tentang Air Dingin yang Dipakai di Jaman Alkitab
Anda lihat dalam resep yang memakai air dingin. Pada abad pertama di Timur Tengah, kata "air dingin" tentu saja tidak merujuk pada air es atau air dari lemari es seperti standar kita hari ini.
Saat musim panas di wilayah Judea (Yudea), suhu udara bisa menjadi sangat terik. Lantas, seperti apa "air dingin" yang dimaksud dalam konteks kuno tersebut, dan bagaimana mereka mendapatkannya?
1. Teknologi "Pendingin" Alami Zaman Dulu
Masyarakat kuno memanfaatkan hukum alam untuk menjaga agar air mereka tetap sejuk, di antaranya melalui cara-cara berikut:
- Tempayan Tanah Liat (Evaporative Cooling): Ini adalah teknologi pendinginan paling populer di zaman kuno. Air disimpan dalam kendi atau tempayan tanah liat yang tidak dilapisi glasir (berpori). Air akan merembes sangat sedikit ke dinding luar kendi dan menguap karena udara panas di luar. Proses penguapan ini menyerap panas dari dalam tempayan, sehingga air di dalamnya bisa menjadi 3 hingga 5 derajat Celcius lebih sejuk daripada suhu udara sekitar.
- Air Sumur Dalam dan Mata Air: Air yang ditimba dari sumur yang dalam atau diambil langsung dari mata air alami suhunya jauh lebih sejuk daripada air permukaan (seperti air sungai), karena terlindung dari sinar matahari langsung oleh lapisan tanah yang tebal.
- Tradisi Mayim Shelanu (Air yang "Diistirahatkan"): Dalam hukum kuliner Yahudi kuno yang ketat terkait roti tidak beragi, air yang digunakan haruslah Mayim Shelanu, yang artinya "air yang telah menginap". Mereka akan menimba air dari sumur pada waktu senja, lalu membiarkannya semalaman di tempat yang terbuka dan teduh agar suhunya turun mengikuti suhu malam hari yang cenderung dingin. Air inilah yang dipakai keesokan paginya.
2. Mengapa Suhu Air yang Sejuk Ini Sangat Krusial?
Dalam pembuatan roti tidak beragi untuk ritual, suhu air memegang peran yang sangat penting secara sains, yaitu: menghambat ragi liar.
Tepung gandum utuh yang digiling secara tradisional secara alami mengandung spora ragi liar (wild yeast). Jika adonan terkena air yang hangat atau suam-suam kuku akibat terik musim panas, ragi liar ini akan langsung aktif dan mulai memicu proses fermentasi (pembengkakan adonan).
Dengan menggunakan air yang diambil dari sumur dalam atau air yang sudah didinginkan semalaman di dalam tempayan tanah liat, suhu adonan tetap terjaga rendah. Hal ini memberi waktu bagi pembuat roti untuk menguleni dan menggilas adonan dengan aman tanpa takut adonannya telanjur "tercemar" oleh proses ragi sebelum sempat dipanggang.
Awan (Andreas Hermawan)

.jpg)
