Berdasarkan catatan sejarah, sains pangan kuno, dan teks asli Alkitab, anggur yang digunakan oleh Yesus pada Perjamuan Terakhir dan oleh Jemaat Mula-mula adalah anggur yang mengalami fermentasi alami dan mengandung alkohol (wine), bukan jus anggur murni tanpa alkohol seperti yang sering kita temui di beberapa gereja modern saat ini.
Ada tiga alasan utama mengapa secara historis dan tekstual minuman tersebut dipastikan adalah wine beralkohol:
1. Ketiadaan Teknologi Pengawetan (Sains Kuno)
Pada abad pertama, lemari es, teknologi vakum, dan proses pasteurisasi belum ditemukan. Di daerah beriklim hangat seperti Timur Tengah, jus anggur segar yang baru diperas akan langsung mengalami fermentasi alami dalam waktu beberapa hari saja karena adanya ragi liar (wild yeast) yang menempel pada kulit anggur.
Satu-satunya cara untuk menyimpan hasil panen anggur agar bertahan berbulan-bulan tanpa membusuk adalah dengan membiarkannya terfermentasi menjadi alkohol. Teknologi untuk mempertahankan jus anggur tetap menjadi "jus manis tanpa alkohol" selama berbulan-bulan baru ditemukan pada tahun 1869 oleh seorang dokter gigi bernama Thomas Bramwell Welch (pencetus Welch's Grape Juice).
2. Kalender Panen dan Waktu Paskah
Perjamuan Terakhir Yesus diadakan pada malam Paskah Yahudi (Pesach), yang jatuh pada bulan Nisan (sekitar bulan Maret atau April).
Sementara itu, musim panen buah anggur di Israel terjadi pada akhir musim panas (sekitar bulan Agustus hingga September). Artinya, Perjamuan Terakhir terjadi sekitar 6 bulan setelah musim panen anggur terakhir. Secara ilmiah, mustahil bagi masyarakat abad pertama untuk menyimpan jus anggur segar selama 6 bulan tanpa berubah menjadi anggur beralkohol atau menjadi cuka yang basi.
3. Istilah Bahasa Asli dan Tradisi Liturgi
Dalam teks Perjanjian Baru, kata yang digunakan untuk anggur adalah οἶνος (oinos), yang dalam dunia Yunani-Romawi merujuk pada minuman anggur yang difermentasi.
Ketika Yesus menyebut anggur dalam Perjamuan Terakhir, Ia menggunakan frasa:
“...τοῦ γενήματος τῆς ἀμπέλου...” (tou genēmatos tēs ampelou) — "hasil pokok anggur" (Matius 26:29).
Frasa ini bukan istilah acak, melainkan kutipan langsung dari doa berkat tradisional Yahudi (Kiddush) yang diucapkan di atas cawan anggur Paskah:
"Baruch atah Adonai, Eloheinu Melech ha-olam, borei pri hagafen." (Terpujilah Engkau, ya TUHAN Allah kami, Raja semesta alam, yang menciptakan buah dari pokok anggur).
Dalam tradisi Yahudi, doa ini wajib diucapkan menggunakan yayin (anggur beralkohol yang difermentasi).
Catatan Penting: Kadar Alkohol Zaman Dulu
Meskipun anggur yang digunakan Yesus dan Jemaat Mula-mula mengandung alkohol, praktiknya sangat berbeda dengan cara orang minum wine modern.
- Selalu Diencerkan: Dalam budaya Yahudi, Yunani, dan Romawi kuno, meminum anggur murni tanpa campuran dianggap sebagai kebiasaan orang barbar dan cepat memabukkan. Anggur untuk perjamuan formal selalu dicampur dengan air bersih dengan rasio umumnya 2:1 atau 3:1 (dua atau tiga bagian air untuk satu bagian anggur).
- Fungsi Praktis: Pencampuran air ini menurunkan kadar alkohol secara signifikan (diperkirakan menjadi sekitar 2% hingga 5% saja), sekaligus berfungsi untuk memurnikan air minum zaman dulu dari bakteri.
Fakta bahwa anggur Jemaat Mula-mula mengandung alkohol juga terkonfirmasi dari teguran Rasul Paulus di 1 Korintus 11:21 yang kita bahas sebelumnya, di mana ia menegur sebagian jemaat yang egois hingga menjadi mabuk (methyei) saat Perjamuan Kasih. Hal ini tidak akan terjadi jika mereka hanya meminum jus anggur biasa.
Awan (Andreas Hermawan)
