Mari kita telusuri teks asli dan latar belakang sejarah dari 1 Korintus 11:17-34. Bagian ini memberikan gambaran yang sangat jelas tentang bagaimana praktik perjamuan makan bersama yang awalnya indah, mengalami penyimpangan serius ketika diterapkan dalam konteks jemaat di Korintus.
Untuk memahami teguran Rasul Paulus, Anda perlu melihat situasi sosial kota Korintus dan bagaimana hal itu merusak makna teologis dari Perjamuan Kudus.
1. Latar Belakang Sosial Kota Korintus
Korintus adalah kota metropolitan Romawi yang sangat kaya, kosmopolitan, dan memiliki stratifikasi sosial yang sangat tajam. Ketika jemaat Korintus berkumpul di sebuah rumah (biasanya rumah jemaat yang kaya karena memiliki ruangan yang cukup besar), mereka membawa budaya kelas sosial mereka ke dalam gereja.
Pada masa itu, Perjamuan Kudus masih diadakan dalam bentuk Perjamuan Kasih (Agape Feast), yaitu makan malam penuh bersama, yang di dalamnya terdapat ritus pemecahan roti dan minum cawan harian/mingguan untuk mengingat Yesus.
2. Penyimpangan yang Terjadi: "Perjamuan Sendiri"
Penyimpangan utama yang terjadi adalah runtuhnya rasa kebersamaan dan kasih karena egoisme kelas sosial. Paulus menjelaskannya dalam 1 Korintus 11:20-21:
Teks Yunani (Ayat 20): “συνερχομένων οὖν ὑμῶν εἰς τὸ αὐτὸ οὐκ ἔστιν κυριακὸν δεῖπνον φαγεῖν”
Artinya: "Ketika kamu berkumpul bersama, itu bukanlah untuk makan Perjamuan Tuhan (kyriakon deipnon)."
Teks Yunani (Ayat 21): “ἕκαστος γὰρ τὸ ἴδιον δεῖπνον προλαμβάνει ἐν τῷ φαγεῖν...”
Artinya: "Sebab pada waktu makan itu, masing-masing mengambil dahulu perjamuannya sendiri (idion deipnon)..."
Apa yang sebenarnya terjadi?
Orang-orang kaya di Korintus tidak perlu bekerja kasar, sehingga mereka bisa datang lebih awal ke tempat pertemuan. Mereka membawa makanan dan anggur yang mewah, lalu langsung memakannya hingga kenyang bahkan ada yang mabuk (μεθύει - methyei).
Sementara itu, jemaat yang miskin—seperti para budak atau buruh harian—baru bisa datang terlambat setelah jam kerja mereka selesai. Ketika mereka tiba, makanan sudah habis, dan mereka terabaikan serta kelaparan.
Paulus dengan keras menegur hal ini di ayat 22: “...καταισχύνετε τοὺς μὴ ἔχοντας;” yang berarti, "Apakah kamu mempermalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa?"
3. Arti "Makan dengan Cara yang Tidak Layak" (Anaxiōs)
Teguran Paulus yang paling sering disalahpahami dalam sejarah gereja modern ada pada ayat 27:
"Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak (ἀναξίως – anaxiōs) makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan."
Banyak orang Kristen hari ini merasa takut ikut Perjamuan Kudus karena merasa "tidak layak" secara moral atau rohani (karena merasa berdosa). Namun dalam teks aslinya, kata anaxiōs adalah sebuah kata keterangan (adverb), bukan kata sifat (adjective). Artinya, Paulus tidak sedang berbicara tentang status kelayakan individu orang yang makan, melainkan cara atau sikap kedurhakaan saat melakukan perjamuan tersebut.
Makan dengan anaxiōs (tidak layak) di Korintus berarti: makan dengan sikap serakah, memecah belah jemaat, mengabaikan orang miskin, dan memperlakukan perjamuan kudus seperti pesta pora kafir.
4. Gagal "Membedakan Tubuh Tuhan" (Diakrinōn to Sōma)
Dalam ayat 29, Paulus menulis:
"Karena barangsiapa makan dan minum tanpa membedakan (μὴ διακρίνων – mē diakrinōn) tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya."
Kata "Tubuh Tuhan" di sini memiliki makna ganda yang mendalam secara teologis:
- Tubuh Kristus yang disalibkan: Gagal menghargai pengorbanan Yesus.
- Tubuh Kristus sebagai Gereja (Komunitas Orang Percaya): Ketika orang kaya mengabaikan orang miskin, mereka gagal mengenali bahwa orang miskin tersebut adalah anggota dari "Tubuh Kristus" yang sama. Menyakiti sesama anggota jemaat berarti merusak Tubuh Kristus.
Karena penyimpangan yang parah ini, Paulus menyebutkan konsekuensi rohani dan fisik yang terjadi atas jemaat di Korintus pada ayat 30: banyak yang lemah, sakit, dan bahkan meninggal ("tertidur").
5. Solusi dari Paulus
Paulus tidak melarang mereka makan bersama, tetapi ia memberikan tata tertib yang tegas untuk mengembalikan esensi Perjamuan Kudus (ayat 33-34):
“ἀλλήλους ἐκδέχεσθε” (allēlous ekdechesthe): "Tunggulah seorang akan yang lain." Kebersamaan dan kesetaraan harus diutamakan.
Jika ada yang benar-benar lapar, Paulus menyarankan agar mereka makan terlebih dahulu di rumah masing-masing sebelum datang bersekutu, agar saat berkumpul, fokus mereka bukan lagi memuaskan perut, melainkan bersekutu dan mengingat Kristus bersama-sama.
Melalui teks 1 Korintus 11 ini, kita melihat bahwa kedekatan praktik Perjamuan Kudus dengan makan bersama harian/mingguan menuntut komitmen kasih yang radikal. Ketika kasih itu hilang dan digantikan oleh keegoisan, tindakan sakramental tersebut kehilangan maknanya di hadapan Allah.
Awan (Andreas Hermawan)
