Pernahkah Anda memperhatikan betapa berbedanya gereja-gereja mengatur jadwal Perjamuan Kudus? Ada gereja yang melaksanakannya setiap minggu, ada yang sebulan sekali pada minggu pertama, bahkan ada yang hanya beberapa kali dalam setahun.
Perbedaan ini sering kali memicu pertanyaan di benak kita: “Sebenarnya, mana yang paling alkitabiah? Apakah ibadah kita kurang sah kalau minggu ini tidak ada Perjamuan Kudus?”
Untuk menjawabnya, mari kita tanggalkan dulu tradisi denominasi kita sejenak dan menyelami teks asli Yunani di Perjanjian Baru. Kita akan menemukan bahwa esensi Perjamuan Kudus ternyata jauh lebih dalam daripada sekadar mencocokkan tanggal di kalender liturgi.
1. Misteri Kata Hosakis: Menghancurkan Batas Legalitas
Ketika Rasul Paulus menulis tentang Perjamuan Kudus dalam 1 Korintus 11:25-26, ia mencatat perkataan Yesus:
"...lakukanlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku! Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan kamu minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang."
Dalam teks asli Yunani, frasa "setiap kali" menggunakan kata ὁσάκις (hosakis). Arti harfiahnya adalah "as often as"—sesering apa pun atau kapan pun.
Menariknya, Alkitab tidak menggunakan kata dei yang berarti keharusan mutlak yang kaku, juga tidak menetapkan hari tertentu. Tuhan Yesus sengaja memberikan ruang kebebasan yang fleksibel. Mengapa? Karena Tuhan tidak menginginkan Perjamuan Kudus berubah menjadi hukum taurat baru atau ritual kosong yang wajib dicentang setiap minggu. Fokusnya bukan pada seberapa sering kita melakukannya, melainkan bagaimana kondisi hati kita setiap kali melakukannya.
2. Kata Poieite: Bukan Ritual Instan, Tapi Gaya Hidup
Dalam Lukas 22:19, perintah Yesus berbunyi: "perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku."
Jika kita membedah tata bahasa Yunaninya, kata "perbuatlah" menggunakan bentuk ποιεῖτε (poieite), sebuah kata kerja dalam bentuk present imperative active. Sederhananya, ini adalah perintah untuk melakukan sesuatu secara berulang-ulang, terus-menerus, dan menjadikannya sebuah kebiasaan (gaya hidup).
Jadi, meskipun tidak ada hukum yang mewajibkan Perjamuan Kudus ada di setiap ibadah, teks asli meminta kita untuk tidak meremehkan frekuensinya. Perjamuan Kudus harus menjadi ritme yang konstan dalam kehidupan gereja, karena memori manusia itu pendek—kita mudah lupa pada pengorbanan Kristus di tengah kesibukan duniawi.
3. Menengok Ritme Jemaat Mula-mula (Klasis tou Artou)
Bagaimana jemaat perdana mempraktikkan hal ini? Di kitab Kisah Para Rasul, Perjamuan Kudus disebut dengan istilah κλάσει τοῦ ἄρτου (klasei tou artou) atau "pemecahan roti".
- Fase Awal (Kisah Para Rasul 2:42, 46): Jemaat perdana memecahkan roti setiap hari dari rumah ke rumah. Saat itu, Perjamuan Kudus menyatu dengan makan malam bersama jemaat (Perjamuan Kasih).
- Fase Perkembangan (Kisah Para Rasul 20:7): Polanya bergeser menjadi mingguan (setiap hari pertama dalam minggu itu, yaitu hari Minggu—hari kebangkitan Yesus).
Sejarah menunjukkan bahwa frekuensi bisa berubah sesuai konteks pertumbuhan jemaat, namun satu hal yang pasti: bagi jemaat mula-mula, Perjamuan Kudus adalah "menu utama", bukan sekadar "pencuci mulut" atau acara tambahan di akhir ibadah.
Kesimpulan: Di Mana Titik Keseimbangannya?
Alkitab memberikan kebebasan liturgis bagi gereja lokal untuk menentukan frekuensi Perjamuan Kudus. Jadi, tidak perlu menghakimi gereja lain yang jadwalnya berbeda dengan gereja kita.
Tantangan terbesar kita hari ini justru ada dua ekstrem:
- Legalitas yang Kaku: Melakukannya setiap minggu tetapi kehilangan makna, menganggapnya sekadar rutinitas liturgi yang membosankan.
- Kecerobohan yang Meremehkan: Melakukannya terlalu jarang sehingga kita kehilangan keintiman dan kesadaran akan dahsyatnya salib Kristus.
Setiap kali roti dipecahkan dan cawan dituangkan, ingatlah kata hosakis. Sesering apa pun gereja Anda melakukannya, pastikan hati Anda selalu gemetar oleh ucapan syukur atas anugerah-Nya.
Refleksi Pribadi: Selama ini, bagaimana Anda memandang Perjamuan Kudus di gereja Anda? Apakah sudah menjadi rutinitas biasa (otomatisasi) atau masih menjadi momen yang menggetarkan hati?
Studi Teks: Berdasarkan makna kata hosakis (setiap kali) dan poieite (lakukan terus-menerus), diskusikan bagaimana kelompok Anda bisa menjaga keseimbangan antara "kebebasan jadwal" dan "keseriusan makna".
Awan (Andreas Hermawan)
