Materi Belajar Alkitab: Karunia Mengadakan Mujizat


Apa itu karunia mengadakan mujizat?

Dalam 1 Korintus 12:10, istilah aslinya adalah energeimata dynameon. Secara harafiah berarti "operasional berbagai kuasa". Ini adalah kemampuan supranatural yang diberikan oleh Roh Kudus kepada orang percaya untuk melakukan tindakan yang melampaui hukum alam, demi menyatakan kemuliaan Allah dan meneguhkan pemberitaan Injil.


Karunia Mujizat di Zaman Modern: Apakah Masih Ada?

​Dalam teologi, ada dua pandangan besar mengenai hal ini:

(1) Sesasionisme

Yaitu percaya bahwa karunia-karunia mujizat telah berhenti setelah Alkitab selesai disusun (kanon) dan para Rasul meninggal. 

Dasar Pemikiran: Mujizat hanya sebagai "tanda" pengesahan Rasul. Jika Alkitab sudah lengkap, tanda tersebut tidak diperlukan lagi.


(2) Kontinuasionisme

Yaitu percaya bahwa semua karunia Roh masih berlaku sampai hari ini hingga Yesus datang kembali

Dasar Pemikiran: Janji Yesus dalam Markus 16:17-18 dan 1 Korintus 13:8-10 (bahwa karunia akan berhenti saat "Yang Sempurna" datang, yang diartikan sebagai kedatangan Kristus kedua kali).

Markus 16:17-18 (TB)  Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."

1 Korintus 13:8-10 (TB)  Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap

Bagi kita yang melayani di ladang Tuhan saat ini, kita melihat bahwa Allah tetaplah sama (Ibrani 13:8). 

Ibrani 13:8 (TB)  Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. 

Selama Injil masih perlu diberitakan ke tempat-tempat yang belum terjangkau atau kepada mereka yang membutuhkan bukti kasih Allah, karunia mujizat tetap relevan dan tersedia. Namun, mujizat bukanlah tujuan utama; tujuan utamanya adalah pertobatan dan keselamatan jiwa.


Mengenal Pandangan Sesasionisme

Pandangan Sesasionisme (dari bahasa Inggris cessation yang berarti "berhenti" atau "pengakhiran") adalah keyakinan teologis bahwa karunia-karunia rohani yang bersifat mujizat atau "karunia tanda" (sign gifts)—seperti nubuat, bahasa roh, dan mujizat—telah berhenti bekerja di dalam gereja setelah zaman para Rasul berakhir.

​Bagi mereka, karunia-karunia tersebut memiliki "masa kedaluwarsa". Berikut adalah latar belakang dan alasan mengapa pandangan ini muncul:


​1. Argumen Alkitabiah: "Yang Sempurna Telah Tiba"

​Landasan utama yang sering digunakan adalah 1 Korintus 13:8-10:

​"Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna itu tiba, maka yang tidak lengkap itu akan lenyap."

Tafsir Sesasionis: Mereka menafsirkan "yang sempurna" (to teleion) bukan sebagai kedatangan Yesus yang kedua kali, melainkan sebagai selesainya Kanon Alkitab (Perjanjian Baru).

Logikanya: Karunia mujizat dan nubuat diberikan untuk menuntun jemaat mula-mula karena saat itu Alkitab belum lengkap. Begitu Alkitab (firman Tuhan yang sempurna) selesai disusun, maka "alat bantu" berupa mujizat dan nubuat tidak lagi diperlukan.


​2. Fungsi Mujizat sebagai "Kredensial" (Surat Keterangan) Rasul

​Kaum Sesasionis percaya bahwa mujizat bukanlah sesuatu yang dimaksudkan untuk terjadi secara umum di sepanjang sejarah gereja.

Tujuan Khusus: Mujizat berfungsi untuk mengesahkan (validate) pesan yang dibawa oleh para Rasul sebagai utusan resmi Allah (Ibrani 2:3-4).

Logikanya: Sama seperti seorang duta besar hanya perlu menunjukkan surat mandatnya di awal penugasan, para Rasul menunjukkan mujizat untuk membuktikan bahwa ajaran mereka benar dari Tuhan. Setelah ajaran tersebut dibukukan dalam Alkitab, "surat mandat" berupa mujizat tidak lagi diperlukan untuk membuktikan kebenaran Injil.


​3. Argumen Fondasi Gereja (Efesus 2:20)

​Paulus menulis bahwa jemaat dibangun di atas dasar (fondasi) para rasul dan para nabi.

Logikanya: Sebuah bangunan hanya memerlukan satu kali peletakan batu pertama atau fondasi. Karunia mujizat dan nubuat dianggap sebagai bagian dari "fase fondasi" tersebut. Jika kita masih memerlukan mujizat/rasul hari ini, itu dianggap seolah-olah gereja tidak pernah selesai membangun fondasinya.


​4. Pengamatan Sejarah (Observasi Empiris)

​Tokoh-tokoh reformasi seperti Yohanes Kalvin dan Martin Luther (serta teolog abad setelahnya seperti B.B. Warfield) mengamati bahwa karunia-karunia spektakuler tersebut tampak menghilang secara drastis setelah abad pertama.

​Mereka berpendapat bahwa selama berabad-abad sejarah gereja yang sehat, karunia-karunia tersebut tidak menjadi praktik umum. Munculnya kembali klaim mujizat di kelompok-kelompok tertentu sering kali dipandang dengan kecurigaan sebagai penyimpangan atau pengaruh emosional semata.


​5. Menjaga Otoritas Alkitab (Sola Scriptura)

​Banyak penganut Sesasionisme khawatir bahwa jika "Karunia Nubuat" atau "Mujizat" masih ada, hal itu akan mengurangi otoritas Alkitab.

Kekhawatiran mereka: Jika seseorang berkata, "Tuhan berbicara padaku lewat nubuat," maka ucapan orang itu bisa dianggap setara dengan Alkitab. Dengan mengatakan karunia tersebut sudah berhenti, mereka memagari agar Alkitab menjadi satu-satunya sumber otoritas tertinggi.

Catatan Penting: Sesasionis tidak percaya bahwa Allah berhenti melakukan mujizat. Mereka percaya Allah masih bisa menyembuhkan orang sakit jika Ia mau (melalui doa). Namun, mereka tidak percaya bahwa ada individu yang memiliki "karunia" atau "kuasa" untuk melakukan mujizat secara tetap seperti para Rasul.


Penginjilan Dengan Kuasa

Menurut saya tidaklah tepat jika "yang sempurna" di 1 Korintus 13:8-10 tersebut diartikan dengan kanon Alkitab yang sudah lengkap. Arti yang benar dari "yang sempurna itu tiba" adalah kedatangan Kristus.

Jika jaman sekarang tidak ada penginjil yang diberi kuasa mujizat, ini tidak sesuai dengan kuasa penginjilan yang diajarkan Yesus karena penginjilan harus ada sampai Dia datang kedua kalinya dan penginjilan bukan sekedar teori, tapi penuh kuasa.

Jaman sekarang banyak agama lain dan sosok yang mengklaim sebagai tuhan, sebagai mesias, atau nabi dan mereka punya mujizat juga. Jika di Kristen jaman sekarang tidak bisa mengadakan mujizat, mereka yang percaya dengan hal supranatural tidak akan tertarik bahkan tidak akan percaya dengan Kekristenan. Mereka akan menganggap kalau Kristen itu kebohongan, hanya teori, atau tidak ada bukti kuasa ilahi yang nyata di depan mata.


​1. Kritik terhadap Penafsiran "Yang Sempurna" sebagai Alkitab

​"Yang Sempurna" adalah kedatangan Kristus memiliki dasar biblika yang sangat kuat dalam 1 Korintus 13:12:

​"Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka..."

Logika: Kita tidak melihat Alkitab "muka dengan muka". Istilah ini hanya bisa merujuk pada pertemuan pribadi dengan Tuhan Yesus.

​Jika "Yang Sempurna" belum tiba (Yesus belum datang kembali), maka karunia-karunia yang "tidak sempurna" (seperti nubuat, bahasa roh, dan mujizat) secara logis masih dibutuhkan sebagai alat bantu gereja di bumi.


​2. Penginjilan Bukan Hanya Kata-kata, Tapi Kuasa

​Yesus tidak pernah mengutus murid-murid-Nya hanya dengan "teori". Yesus tidak mengutus motivator, yang pintar berkata-kata dan mengajar. Yang Dia utus adalah orang biasa tapi penuh iman dan kuasa Roh.

Dalam Matius 10:7-8 dan Lukas 10:9, mandatnya selalu berpasangan: Beritakanlah Kerajaan Surga DAN Sembuhkanlah orang sakit, bangkitkanlah orang mati, tahirkanlah orang kusta, usirlah setan-setan.

​Rasul Paulus pun menegaskan ini: "Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa." (1 Korintus 4:20).

​Tanpa manifestasi kuasa, berita Injil berisiko hanya menjadi filsafat moral belaka. Kuasa mujizat adalah "tanda tangan" Allah di bawah pemberitaan firman-Nya.


​3. Konsep "Power Encounter" (Pertemuan Kuasa)

​Persaingan dengan oknum/agama lain yang juga mengklaim mujizat sangat krusial. Dalam misiologi, ini disebut Power Encounter.


Di tengah dunia yang penuh dengan praktik okultisme (New Age) atau klaim supranatural palsu, jemaat membutuhkan manifestasi kuasa Tuhan yang nyata agar mereka tahu siapa Allah yang sejati. Mujizat adalah cara Tuhan "memenangkan argumen" di mata orang yang mencari bukti.


Penumpangan Tangan: Syarat Mutlak atau Salah Satu Cara?

Di Kitab Kisah Para Rasul, banyak manifestasi kuasa terjadi setelah penumpangan tangan (impartasi). Namun, Alkitab menunjukkan pola yang lebih luas:

Pola Impartasi (Melalui Penumpangan Tangan)

Yosua menerima roh hikmat karena Musa menumpangkan tangan (Ulangan 34:9).

Ulangan 34:9 (TB)  Dan Yosua bin Nun penuh dengan roh kebijaksanaan, sebab Musa telah meletakkan tangannya ke atasnya. Sebab itu orang Israel mendengarkan dia dan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. 

Timotius menerima karunia melalui penumpangan tangan Paulus dan para penatua (2 Timotius 1:6, 1 Timotius 4:14).

2 Timotius 1:6 (TB)  Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.

1 Timotius 4:14 (TB)  Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.

Jemaat di Samaria dan Efesus menerima manifestasi Roh setelah para Rasul menumpangkan tangan (Kisah Para Rasul 8:17, 19:6).

Kisah Para Rasul 8:17 (TB)  Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus. 

Kisah Para Rasul 19:6 (TB)  Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.


Pola Kedaulatan (Tanpa Penumpangan Tangan)

Peristiwa Pentakosta: 120 murid menerima kuasa langsung dari langit tanpa ada orang yang menumpangkan tangan atas mereka (Kisah Para Rasul 2).

Kisah Para Rasul 2:4 (TB)  Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Rumah Kornelius: Saat Petrus sedang berkhotbah (bahkan sebelum doa penumpangan tangan dilakukan), Roh Kudus turun atas mereka (Kisah Para Rasul 10:44).

Kisah Para Rasul 10:44 (TB)  Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu.

Kesimpulan: Penumpangan tangan adalah saluran berkat/impartasi yang alkitabiah, namun bukan syarat administratif atau hukum tetap. Sumber kuasa adalah Roh Kudus, dan Ia membagikan karunia kepada setiap orang secara mandiri, seperti yang dikehendaki-Nya (1 Korintus 12:11).

1 Korintus 12:11 (TB)  Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.

Poin Penting: Penumpangan tangan seringkali lebih bersifat "peneguhan" atau "aktivasi" karunia yang memang sudah Roh Kudus taruh di dalam seseorang, bukan berarti hamba Tuhan tersebutlah pemilik kuasanya.

  1. Fokus pada Sumber, bukan Perantara: Hormati hamba Tuhan yang diurapi, namun ingatlah bahwa iman kita harus tertuju pada Kristus, bukan pada tangan orang yang menumpang.
  2. Karunia untuk Melayani: Karunia mengadakan mujizat diberikan bukan untuk pamer kekuatan (showmanship), melainkan untuk membangun jemaat dan memuliakan Tuhan.
  3. Kedaulatan Allah: Kita bisa berdoa dan meminta karunia, namun Roh Kuduslah yang memutuskan kapan dan melalui siapa mujizat itu dinyatakan.


Karunia Mujizat di Zaman Modern

​Apakah masih ada karunia mujizat di jaman modern? Tentu ada yaitu menilik beberapa hal berikut ini:

  1. Dasar Alkitabiah (Markus 16:17-18): Yesus menyatakan bahwa tanda-tanda (termasuk mengusir setan dan menyembuhkan) akan menyertai "orang-orang yang percaya". Janji ini tidak dibatasi hanya untuk para Rasul di abad pertama.
  2. Kebutuhan Misi: Mujizat seringkali menjadi "pembuka jalan" di daerah-daerah yang keras secara spiritual (daerah misi). Jika Tuhan masih melakukan misi penyelamatan hari ini, maka alat-alat supranatural-Nya (karunia mujizat) logisnya masih tersedia.
  3. Kesaksian Kontemporer: Di berbagai belahan dunia (termasuk Indonesia), masih banyak laporan tentang kesembuhan ilahi dan pengusiran setan yang terdokumentasi dalam pelayanan gereja-gereja yang percaya pada kuasa Roh Kudus.

​Jangan sampai kita terjebak pada kultus individu (hanya mengejar penumpangan tangan tokoh tertentu), melainkan kita harus mengejar Sumber Karunia itu sendiri. Mujizat adalah alat (tool) untuk pemberitaan Injil, bukan tanda tingkat kesucian seseorang. Jika tidak, maka Yesus akan menyangkal kita.

Matius 7:21-23 (TB)  Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?

Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"


 Jika kita setuju bahwa mujizat adalah alat penginjilan yang masih berlaku, maka cara menerimanya pun tetap terbuka:

  1. Impartasi (Penumpangan Tangan): Sebagai bentuk estafet urapan dari hamba Tuhan yang lebih senior.
  2. Kedaulatan Doa: Gereja mula-mula dalam Kisah Para Rasul 4:30 tidak minta penumpangan tangan, mereka berdoa: "Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus."

​Karunia mujizat bukan "hak milik" pribadi hamba Tuhan tertentu, melainkan "perlengkapan tugas" yang diberikan Roh Kudus kepada siapa saja yang berani melangkah dalam iman untuk memberitakan Injil.


Resiko Besar Pandangan Sesasionisme

Pandangan Sesasionisme ini bisa membahayakan penganutnya untuk jatuh dalam dosa memberi label sesat kepada orang Kristen yang mengadakan mujizat asli, serta bisa jatuh dalam dosa menghujat Roh Kudus jika mereka menilai bahwa mujizat yang dilakukan oleh orang tersebut adalah dari roh jahat.


​1. Risiko Menghujat Roh Kudus (Matius 12:22-32)

​Perikop tentang "dosa yang tak terampuni" muncul justru ketika para ahli Taurat dan orang Farisi melihat sebuah mujizat yang nyata (Yesus mengusir setan), namun mereka melabelinya sebagai pekerjaan Beelzebul (roh jahat).

Penerapan di Zaman Modern: Jika seorang penganut Sesasionisme yang sangat kaku melihat sebuah mujizat kesembuhan yang asli—yang dikerjakan oleh Roh Kudus—lalu karena doktrinnya ia berkata, "Itu pasti kuasa gelap karena karunia mujizat sudah tidak ada," maka ia berada di garis yang sangat berbahaya.

Poin Utama: Menolak sebuah ajaran adalah satu hal, tetapi mengatribusikan karya nyata Roh Kudus sebagai karya iblis adalah hal yang sangat serius di hadapan Tuhan!


​2. Dosa Menghakimi dan Memecah Belah Tubuh Kristus

​Pandangan Sesasionisme yang ekstrem sering kali terjebak dalam sikap skeptis yang berlebihan.

Label Sesat: Mereka bisa dengan mudah melabeli saudara seiman sebagai "sesat" hanya karena manifestasi kuasa Roh, bukan karena penyimpangan doktrin keselamatan (Soteriologi).

Memadamkan Roh: Alkitab justru memperingatkan dalam 1 Tesalonika 5:19-20: "Janganlah padamkan Roh, dan janganlah anggap rendah nubuat." Sesasionisme berisiko secara sistematis "memadamkan Roh" dalam komunitas mereka karena tidak memberikan ruang bagi kedaulatan Tuhan untuk bekerja secara supranatural.


​3. Kehilangan "Kuasa Pemberitaan" (Powerless Gospel)

​Jika gereja kehilangan dimensi kuasa, maka gereja hanya akan menjadi institusi moral atau klub diskusi filsafat.

Bahaya bagi Penginjil: Penginjil yang memegang teguh Sesasionisme akan "maju perang" tanpa senjata yang lengkap. Mereka membatasi tangan Tuhan hanya pada argumen logika, sementara dunia membutuhkan perjumpaan dengan kuasa Allah.


Bijaksana Menilai Tanda atau Mujizat

Setelah membahas semua diatas, saya mengajak kita semua untuk bijaksana dalam menilai tanda atau mujizat di zaman sekarang:

  1. Kerendahan Hati Intelek: Kita harus mengakui bahwa pikiran manusia (teologi kita) tidak boleh membatasi apa yang Tuhan bisa dan ingin lakukan hari ini.
  2. Kewaspadaan Spiritual: Sangat berbahaya jika kita menjadi seperti orang Farisi yang begitu "pintar agama" namun gagal mengenali pekerjaan Roh Kudus yang nyata di depan mata.
  3. Keseimbangan: Kita tetap harus waspada terhadap mujizat palsu (Matius 7:22-23), namun kewaspadaan itu tidak boleh berubah menjadi penolakan total terhadap semua mujizat.


Berikut ciri-ciri mujizat yang Alkitabiah:

  1. Memuliakan Yesus Kristus: Mujizat sejati tidak pernah bertujuan untuk meninggikan figur manusia, pengkhotbah, atau lembaga tertentu, melainkan selalu mengarahkan perhatian dan penyembahan hanya kepada Tuhan.
  2. Meneguhkan Kebenaran Firman: Mujizat berfungsi sebagai "meterai" atau konfirmasi ilahi yang membuktikan bahwa berita Injil yang sedang disampaikan adalah benar dan berasal dari Allah.
  3. Mendorong Pertobatan dan Iman: Tujuan akhir dari mujizat bukan sekadar pemuasan rasa ingin tahu atau tontonan, melainkan untuk membawa orang pada penyerahan diri kepada Kristus dan pertumbuhan iman yang lebih dalam.
  4. Digerakkan oleh Belas Kasihan: Sama seperti Yesus yang sering kali tergerak oleh belas kasihan sebelum menyembuhkan, mujizat alkitabiah mencerminkan kasih Allah yang ingin memulihkan martabat dan penderitaan manusia.
  5. Selaras dengan Seluruh Isi Alkitab: Manifestasi kuasa yang terjadi tidak boleh bertentangan dengan karakter Allah atau prinsip-prinsip yang telah tertulis dalam Firman Tuhan.
  6. Menghasilkan Buah Roh: Mujizat yang berasal dari Tuhan akan membawa dampak jangka panjang berupa transformasi hidup, ketundukan kepada Tuhan, dan kerendahan hati, bukan menghasilkan kesombongan atau ketergantungan pada sensasi supranatural.
  7. Berpusat pada Hubungan dengan Tuhan: Mujizat yang benar membuat orang semakin melekat kepada Sang Pencipta Mujizat (The Miracle Maker), bukan hanya mengejar mujizatnya saja (The Miracle).

Semoga dengan mempeajari materi ini, Anda bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah tentang mengadakan mujizat.

Awan (Andreas Hermawan)

Komentar

Postingan Populer