Materi Belajar Alkitab: Yesus Mesias, Anak Allah
Dalam teologi Alkitab, istilah Mesias dan Anak Allah memiliki latar belakang yang berbeda namun menyatu dalam pribadi Yesus Kristus. Secara singkat: "Mesias" adalah Jabatan/Tugas-Nya, sedangkan "Anak Allah" adalah Hakikat/Identitas-Nya.
Lukas 1:30-33 (TB) Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."
Berikut adalah penjelasan mengenai hubungan keduanya beserta ayat-ayat referensinya:
1. Mesias (Jabatan dan Tugas)
Kata "Mesias" berasal dari bahasa Ibrani Mashiach (Yunani: Kristos) yang berarti "Yang Diurapi". Di Perjanjian Lama, raja, nabi, dan imam diurapi dengan minyak sebagai tanda dipilih Allah untuk tugas khusus.
Makna: Mesias adalah Raja penyelamat yang dijanjikan Allah untuk memulihkan umat-Nya.
Yohanes 1:41 (TB) Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)."
Yohanes 4:25-26 (TB) Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."
2. Anak Allah (Hakikat dan Hubungan Ilahi)
Gelar "Anak Allah" merujuk pada keilahian Yesus dan hubungan unik-Nya yang bersifat kekal dengan Allah Bapa. Ini bukan berarti Allah beranak secara biologis, melainkan kesatuan hakikat.
Yohanes 10:30-38 (TB) Aku dan Bapa adalah satu."
Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus.
Kata Yesus kepada mereka: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?"
Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah."
Kata Yesus kepada mereka: "Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah?
Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah — sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan —,
masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?
Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku,
tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa."
Makna: Menunjukkan bahwa Yesus memiliki otoritas, sifat, dan kemuliaan yang sama dengan Allah.
Lukas 1:35 (TB) Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
Makna: Malaikat Gabriel menyatakan bahwa anak yang dikandung Maria akan disebut "Anak Allah".
Matius 3:17 (TB) lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."
Makna: Suara dari Bapa di surga saat pembaptisan Yesus yang menyatakan status Yesus sebagai AnakNya.
3. Penyatuan Kedua Gelar dalam Perjanjian Baru
Alkitab sering kali menggabungkan kedua istilah ini untuk menunjukkan bahwa Penyelamat (Mesias) yang datang itu bukan sekadar manusia biasa, melainkan Allah sendiri (Anak Allah).
(a) Pengakuan Petrus
Ini adalah momen krusial di mana kedua gelar ini disatukan:
"Maka jawab Simon Petrus: 'Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!'" (Matius 16:16)
(b) Pengadilan di Hadapan Mahkamah Agama
Imam Besar secara spesifik menanyakan kedua gelar ini sekaligus kepada Yesus:
"Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah?" (Matius 26:63)
Yesus menjawab: "Engkau telah mengatakannya."
(c) Tujuan Penulisan Injil
Rasul Yohanes merangkum seluruh kitabnya dengan tujuan agar pembaca percaya pada kedua identitas ini:
"Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah..." (Yohanes 20:31)
4. Perbedaan Penting dalam Pandangan Yahudi
Penting untuk dipahami bahwa pada masa itu, banyak orang Yahudi mengharapkan Mesias hanyalah seorang raja manusia yang hebat seperti Daud. Namun, Yesus menyatakan bahwa Mesias bukan hanya keturunan Daud secara fisik, tetapi juga figur ilahi yang lebih tinggi bagi Daud yang duduk sebanding dengan Bapa (Matius 22:41-45).
Matius 22:41-45 (TB) Ketika orang-orang Farisi sedang berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka, kata-Nya:
"Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?" Kata mereka kepada-Nya: "Anak Daud."
Kata-Nya kepada mereka: "Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya, ketika ia berkata:
Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu.
Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?"
Jadi, Yesus adalah Mesias karena Ia adalah Anak Allah yang turun ke dunia untuk menyelamatkan manusia.
DIANGGAP MENGHUJAT ALLAH
"Mengapa istilah "Anak Allah" sempat dianggap sebagai hujatan oleh para pemuka agama Yahudi pada masa itu?"
Istilah "Anak Allah" dianggap sebagai hujatan (blasphemy) yang sangat serius oleh pemuka agama Yahudi bukan karena mereka tidak mengerti istilah tersebut, melainkan karena mereka sangat memahami implikasi teologisnya.
Bagi mereka, pengakuan Yesus sebagai Anak Allah bukan sekadar gelar kehormatan, melainkan klaim kesetaraan hakikat dengan Allah. Berikut adalah alasan-alasan mengapa hal itu dianggap sebagai hujatan:
1. Klaim Kesetaraan dengan Allah
Dalam budaya Semitik kuno, istilah "anak dari..." sering kali berarti memiliki sifat atau hakikat yang sama dengan bapanya. Ketika Yesus menyebut diri-Nya Anak Allah dalam arti yang unik, para pemuka agama Yahudi mengartikannya bahwa Ia mengklaim memiliki sifat-sifat ilahi.
Yohanes 5:18: "Sebab itu orang-orang Yahudi lebih keras lagi berusaha untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah."
2. Melanggar Konsep Monoteisme Radikal
Umat Yahudi memegang teguh Shema (Ulangan 6:4): "Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!" Bagi para pemuka agama, konsep bahwa Allah memiliki "Anak" yang setara dengan diri-Nya dianggap merusak keesaan Allah. Mereka melihat Yesus sebagai manusia biasa yang mencoba "merebut" kemuliaan Allah yang eksklusif.
3. Otoritas untuk Mengampuni Dosa
Hujatan juga terkait dengan tindakan Yesus yang menyertai gelar tersebut. Hanya Allah yang berhak mengampuni dosa karena dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Allah. Ketika Yesus berkata, "Dosamu sudah diampuni," para ahli Taurat langsung bereaksi.
Markus 2:7: "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?"
4. Hubungan Eksklusif "Abba"
Yesus menggunakan kata "Abba" (Bapa) untuk menyapa Allah. Meskipun orang Yahudi menganggap Allah sebagai Bapa bangsa mereka, menyapa Allah secara personal dan intim sebagai "Bapa-Ku" (secara tunggal dan eksklusif) dianggap tidak sopan dan melampaui batas bagi manusia biasa.
Momen Puncak di Mahkamah Agama
Hujatan inilah yang akhirnya menjadi alasan utama Yesus dijatuhi hukuman mati.
Matius 26:63-65 (TB) Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak."
Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit."
Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya.
Perhatikan dialog dalam Matius 26:63-65:
Pertanyaan: Imam Besar bertanya, "Apakah Engkau Mesias, Anak Allah?"
Jawaban: Yesus menjawab, "Engkau telah mengatakannya." Ia bahkan menambahkan bahwa mereka akan melihat Dia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa.
Reaksi: Imam Besar mengoyakkan pakaiannya (tanda berkabung/marah atas penghinaan terhadap Allah) dan berseru: "Ia telah menghujat Allah! ... Kamu telah mendengar hujat-Nya!"
Kesimpulannya, mereka menghukum Yesus bukan karena Ia mengaku sebagai Mesias politik (karena mengaku sebagai raja saja adalah urusan pemerintah Romawi), tetapi karena Ia mengaku sebagai Anak Allah, yang bagi mereka adalah serangan langsung terhadap kesucian Allah itu sendiri.
MUJIZAT KUASA YESUS SEBAGAI BUKTI
Yesus sering kali menunjuk pada mujizat-mujizat-Nya sebagai bukti sah bahwa Ia adalah Mesias yang diutus Allah, terutama ketika orang-orang meragukan identitas-Nya.
Berikut adalah ayat-ayat di mana Yesus menyatakan bahwa pekerjaan ajaib-Nya adalah kesaksian tentang siapa diri-Nya:
1. Jawaban kepada Yohanes Pembaptis
Ketika Yohanes Pembaptis mengutus murid-muridnya untuk bertanya apakah Yesus adalah Mesias, Yesus menjawab dengan menunjuk pada mujizat-Nya sebagai pemenuhan nubuat Mesias:
Matius 11:2-6 (TB) Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" Yesus menjawab mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku."
2. Kesaksian Pekerjaan-Nya lebih Besar dari Yohanes Pembaptis
Yesus menegaskan bahwa mujizat yang dilakukan-Nya adalah mandat langsung dari Bapa untuk membuktikan otoritas-Nya:
Yohanes 5:36 (TB) Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku.
Yohanes 10:24-25 (TB) Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami." Yesus menjawab mereka: "Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku,
3. Ajakan untuk Percaya melalui Mujizat
Bagi mereka yang sulit percaya pada perkataan-Nya, Yesus meminta mereka setidaknya percaya karena melihat bukti nyata dari mujizat yang Ia lakukan:
Yohanes 10:37-38 (TB) Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa."
Yohanes 14:11 (TB) Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.
4. Mujizat sebagai Tanda Kehadiran Kerajaan Allah
Yesus menjelaskan bahwa kuasa-Nya mengusir setan adalah bukti bahwa Kerajaan Allah (yang dibawa oleh Mesias) sudah tiba di antara mereka:
Matius 12:28 (TB) Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.
5. Tanggung Jawab atas Apa yang Dilihat
Yesus juga menegaskan bahwa karena mujizat-Nya adalah tanda ilahi, mereka yang melihatnya namun tetap menolak-Nya tidak memiliki alasan untuk berdalih:
Yohanes 15:22-24 (TB) Sekiranya Aku tidak datang dan tidak berkata-kata kepada mereka, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang mereka tidak mempunyai dalih bagi dosa mereka! Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku. Sekiranya Aku tidak melakukan pekerjaan di tengah-tengah mereka seperti yang tidak pernah dilakukan orang lain, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang walaupun mereka telah melihat semuanya itu, namun mereka membenci baik Aku maupun Bapa-Ku.
Yesus bukan sekedar nabi biasa yang pernah disebutkan di dalam Alkitab, tapi lebih dari itu, yaitu Mesias dan Anak Allah, yang turun ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa.
Bagaimana dengan Anda? Menurut Anda, siapakah Yesus itu?
Awan (Andreas Hermawan)

Komentar
Posting Komentar