Materi Belajar Alkitab: Hari Sabat & Hukum Taurat
Ada beberapa pandangan di kalangan orang Kristen, yang satu percaya bahwa Sabat harus dirayakan setiap Hari Sabtu, ada yang percaya dengan Sunat, ada yang percaya dengan makanan tertentu itu haram dan lain sebagainya yang masih ada di Hukum Taurat.
Walaupun tidak semua yang tertulis di Hukum Taurat itu dipraktekkan oleh golongan ini, tapi ini telah menjadi bahan perdebatan dari era Jemaat Mula-mula sampai sekarang di jaman modern ini.
Untuk itu saya ajak Anda untuk melihat apa yang Rasul Paulus ajarkan di Alkitab tentang Sabat dan Hukum Taurat, sehingga Anda bisa tahu apa yang resmi dipraktekkan oleh Jemaat Mula-mula, yang artinya doktrin benar yang diajarkan oleh para Rasul.
1. Kematian Kristus Menjadi Sia-sia
Galatia 2:21 (TB) Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.
Paulus menulis dengan sangat tegas ayat tersebut, yang artinya, jika kita merasa bisa menjadi "benar" atau "selamat" di hadapan Allah dengan cara menaati Hukum Taurat secara sempurna, maka pengorbanan Yesus di kayu salib tidak ada gunanya lagi. Mengapa Yesus harus mati jika manusia bisa menyelamatkan dirinya sendiri melalui ketaatan pada hukum?
2. Terputus dari Kristus (Lepas dari Kasih Karunia)
Bagi mereka yang bersikeras bahwa melakukan hukum (seperti sunat atau peraturan Sabat tertentu) adalah syarat mutlak untuk diterima oleh Allah, Paulus memberikan peringatan keras:
Galatia 5:4 (TB) Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.
Berusaha dibenarkan oleh hukum berarti kita sedang mencoba "membayar" keselamatan kita sendiri, dan itu secara otomatis menolak hadiah gratis (kasih karunia) yang diberikan melalui Yesus.
3. Hukum Taurat sebagai "Penuntun", Bukan Penyelamat
Paulus menjelaskan bahwa Hukum Taurat tetap memiliki nilai, tetapi fungsinya bukan untuk menyelamatkan.
Galatia 3:24-25 (TB) Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.
Hukum Taurat seperti cermin yang menunjukkan bahwa kita berdosa dan tidak mampu menyelamatkan diri sendiri, sehingga kita menyadari bahwa kita butuh Juruselamat (Yesus). Setelah kita memiliki Kristus, kita tidak lagi berada di bawah Hukum Taurat lagi (ayat 25).
Bagaimana dengan Sabat bagi Paulus?
Dalam pandangan Paulus, hari-hari tertentu (seperti Sabat atau hari raya Yahudi) tidak boleh dijadikan alat untuk menghakimi sesama atau syarat keselamatan:
Kolose 2:16-17: "Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus."
Paulus tidak melarang orang untuk beristirahat di hari Sabtu atau beribadah di hari Minggu. Yang ia tentang keras adalah Legalitas: keyakinan bahwa jika kamu tidak melakukan Sabat, maka kamu berdosa dan kehilangan keselamatan.
Bagi Paulus, kita berbuat baik (termasuk beribadah) bukan supaya selamat, melainkan karena sudah diselamatkan oleh iman kepada Yesus.
Teguran Paulus Kepada Petrus
Ada suatu peristiwa dimana Paulus pernah menegur Petrus dengan tegas di hadapan jemaat, dan ini berhubungan dengan kebiasaan dari Hukum Taurat. Peristiwa ini sering disebut sebagai "Insiden Antiokhia" yang dicatat oleh Paulus dalam Galatia 2:11-14.
Galatia 2:11-14 (TB) Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah.
Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat.
Dan orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka.
Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?"
Berikut adalah rincian mengenai perdebatan tersebut dan mengapa hal itu sangat penting:
1. Latar Belakang: Makan Bersama (Komunitas Inklusif)
Di Antiokhia, jemaat Kristen terdiri dari orang Yahudi dan non-Yahudi. Awalnya, Petrus (Kefas) dengan senang hati makan bersama jemaat non-Yahudi. Ini adalah tindakan revolusioner karena dalam tradisi Yahudi, makan bersama orang yang tidak bersunat dianggap melanggar hukum kesucian.
2. Pemicu Konflik: Kedatangan Kelompok Yakobus
Masalah muncul ketika beberapa orang Yahudi dari Yerusalem (kelompok yang dekat dengan Yakobus) datang ke Antiokhia. Mereka adalah penganut "Yudaisme" yang percaya bahwa orang Kristen harus tetap menjalankan Hukum Taurat secara ketat (seperti sunat dan aturan diet).
Sikap Petrus: Karena takut dikritik oleh kelompok bersunat itu, Petrus tiba-tiba menarik diri dan tidak mau lagi makan bersama jemaat non-Yahudi.
Dampak: Tindakan Petrus ini diikuti oleh orang Yahudi lainnya, bahkan Barnabas (rekan pelayanan Paulus) pun ikut terpengaruh.
3. Teguran Keras Paulus
Melihat hal itu, Paulus menegur Petrus secara terang-terangan di depan umum. Paulus tidak menyerang Petrus secara pribadi, melainkan menyerang kemunafikannya. Argumen Paulus adalah:
"Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa orang-orang kafir hidup secara Yahudi?" (Galatia 2:14)
4. Inti Perdebatan: Apa yang Menyelamatkan Manusia?
Bagi Paulus, tindakan Petrus bukan sekadar masalah etika makan, melainkan masalah Kebenaran Injil.
Logika Paulus: Jika kita mewajibkan orang non-Yahudi melakukan Hukum Taurat (seperti sunat atau Sabat) agar bisa dianggap "Kristen yang sah" atau "diselamatkan", maka kita sedang mengatakan bahwa iman kepada Yesus saja tidak cukup.
Risikonya: Jika keselamatan butuh Yesus + Hukum Taurat, maka Yesus sebenarnya tidak menyelamatkan secara tuntas. Inilah mengapa Paulus berkata bahwa jika benar demikian, maka "sia-sialah kematian Kristus" (Galatia 2:21).
Hasil Akhir: Konsili Yerusalem
Kisah Para Rasul 15:1-2 (TB) Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan."
Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.
Meskipun terjadi ketegangan di Antiokhia, para rasul akhirnya mencapai kesepakatan dalam Konsili Yerusalem (Silahkan baca lengkap di Kisah Para Rasul 15).
Keputusan: Petrus sendiri akhirnya membela Paulus dengan menyatakan bahwa Tuhan tidak membeda-bedakan orang Yahudi dan non-Yahudi (Kis 15:7-11).
Ketentuan: Jemaat non-Yahudi tidak wajib disunat atau memikul beban Hukum Taurat (termasuk kewajiban Sabat seremonial), kecuali beberapa hal praktis untuk menjaga keharmonisan (seperti menjauhi makanan kepada berhala, percabulan, daging yang mati dicekik dan dari darah).
Kisah Para Rasul 15:19-20 (TB) Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah.
Kisah Para Rasul 15:28-29 (TB) Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat."
Di ayat 19-20, dan 29 juga dengan jelas tidak mewajibkan untuk Hari Sabat, sunat, makanan dan minuman haram-halal (misal: babi, ikan tidak bersisik, wine), serta hal-hal lainnya yang biasa ada di Hukum Taurat.
Hasil Konsili ini memastikan bahwa Kekristenan tidak menjadi sekadar "sekte Yahudi", melainkan pesan keselamatan yang universal bagi seluruh bangsa berdasarkan kasih karunia, bukan usaha menaati hukum.
Jadi sudah jelas ya, bahwa Kita murid Yesus tidak diwajibkan untuk beribadah di Hari Sabat atau Sabtu, serta tidak wajib mengikuti beberapa kebiasaan Hukum Taurat lainnya, seperti misalnya sunat, makanan dan minuman haram-halal (babi, ikan tidak bersisik, udang, wine, dll).
Awan (Andreas Hermawan)

Komentar
Posting Komentar