Materi Belajar Alkitab: Persembahan Gereja



Kali ini kita akan membahas tentang pemberian persembahan kepada Gereja seperti misalnya kolekte, perpuluhan, persembahan khusus, dan sebagainya.

Namun yang paling sering dikeluhkan dan diperdebatkan saat ini adalah perpuluhan karena perpuluhan juga sering disalahgunakan oleh oknum-oknum pendeta.

Jadi saya akan bahas tentang perpuluhan dulu, baru dari sana membahas persembahan lainnya.


Apa Perpuluhan Dipraktekkan Oleh Jemaat Mula-mula?

Perpuluhan atau Persepuluhan (memberikan 10% dari penghasilan) adalah topik yang sangat menarik dalam studi Alkitab karena melibatkan transisi dari hukum Taurat di Perjanjian Lama ke kehidupan jemaat di Perjanjian Baru.

​Tapi apakah perpuluhan dipraktekkan oleh Jemaat Mula-mula? Mari kita bahas pelan-pelan:


​1. Tidak Ada Perintah Eksplisit tentang 10%

​Di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru (terutama Kisah Para Rasul dan Surat-surat Paulus), tidak ditemukan perintah spesifik bagi jemaat non-Yahudi untuk memberikan tepat 10%. Persepuluhan dalam Perjanjian Lama merupakan bagian dari hukum Taurat yang ditujukan untuk mendukung suku Lewi dan sistem Bait Allah. Setelah Bait Allah hancur dan sistem keimaman berubah, fokus pemberian pun bergeser.


​2. Prinsip "Memberi dengan Sukacita"

​Jemaat Mula-mula mempraktikkan gaya hidup yang jauh lebih radikal daripada sekadar memberi 10%. Prinsip yang diajarkan oleh Rasul Paulus adalah:

Pemberian yang Proporsional: Memberi sesuai dengan berkat yang diterima (1 Korintus 16:2).

1 Korintus 16:2 (TB)  Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing — sesuai dengan apa yang kamu peroleh — menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang. 

Kerelaan Hati: Tidak dengan sedih hati atau karena paksaan, karena "Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita" (2 Korintus 9:7).

2 Korintus 9:7 (TB)  Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

Totalitas: Banyak jemaat di Yerusalem bahkan menjual harta milik mereka dan membagikannya kepada semua orang sesuai kebutuhan (Kisah Para Rasul 2:44-45).

Kisah Para Rasul 2:44-45 (TB)  Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.


​3. Perbedaan Konteks Perjanjian Lama dan Baru


4. Pandangan Tokoh Gereja Awal

​Beberapa Bapa Gereja awal (seperti Ireneus dan Justin Martyr) mencatat bahwa orang Kristen tidak lagi terikat pada hukum persepuluhan yang kaku, melainkan memberikan segalanya dengan bebas karena mereka telah dimerdekakan oleh Kristus. Pemberian mereka sering kali melampaui 10% karena rasa kepedulian yang tinggi terhadap jemaat yang kekurangan.

Kesimpulan: Jemaat Mula-mula tidak memfokuskan diri pada angka "10%," tetapi mereka sangat aktif dalam memberi. Praktik mereka lebih menekankan pada kemurahan hati yang radikal untuk mendukung pengabaran Injil dan membantu saudara seiman yang miskin.


Kenapa Jemaat Mula2 di Kisah Para Rasul 2 Ramai-ramai Menjual Harta Mereka untuk Dibagikan? 

Tindakan jemaat mula-mula yang menjual harta benda mereka (seperti dicatat dalam Kisah Para Rasul 2:44-45) bukan sekadar aksi spontan tanpa alasan. Ada perpaduan antara dorongan spiritual yang kuat dan situasi praktis yang mendesak pada saat itu.

​Berikut adalah latar belakang utama mengapa peristiwa itu terjadi:


​1. Dampak Peristiwa Pentakosta (Ribuan Peziarah)

​Pada hari Pentakosta, Yerusalem dipenuhi oleh peziarah Yahudi dari berbagai penjuru Kekaisaran Romawi (Roma, Mesir, Partia, dll.) yang datang untuk merayakan hari raya. Setelah khotbah Petrus, sekitar 3.000 orang bertobat dan dibaptis.

Masalah Praktis: Banyak dari petobat baru ini adalah peziarah yang memutuskan untuk tetap tinggal di Yerusalem lebih lama agar bisa belajar dari para Rasul. Mereka tidak memiliki pekerjaan, rumah, atau bekal makanan di Yerusalem.

Solusi Jemaat: Jemaat lokal Yerusalem membuka rumah mereka dan menjual aset (seperti tanah atau barang berharga) untuk menanggung biaya hidup saudara-saudara seiman yang baru ini.


​2. Tekanan Sosial dan Ekonomi (Ostrasisme)

​Menjadi pengikut Yesus pada abad pertama di Yerusalem membawa risiko sosial yang besar.

Pengucilan: Banyak orang Yahudi yang menjadi Kristen dikucilkan oleh keluarga mereka, dipecat dari pekerjaan, atau dilarang berdagang di pasar karena dianggap sebagai pengikut ajaran sesat.

Solidaritas: Karena banyak jemaat yang kehilangan sumber pendapatan akibat iman mereka, jemaat yang masih memiliki harta merasa bertanggung jawab untuk menopang mereka agar tidak ada yang kelaparan.


​3. Keyakinan akan "Kedatangan Kristus yang Segera"

​Jemaat mula-mula hidup dalam antisipasi yang sangat kuat akan kedatangan Yesus yang kedua kalinya dalam waktu dekat (Immanent Eschatology).

​Karena mereka merasa dunia ini akan segera berakhir, kepemilikan materi dianggap tidak lagi memiliki nilai jangka panjang. Fokus mereka beralih sepenuhnya pada pembangunan komunitas rohani (Kerajaan Allah) daripada mengumpulkan kekayaan pribadi.


​4. Manifestasi "Koinonia" (Persekutuan)

​Istilah Yunani yang digunakan adalah Koinonia, yang berarti "berbagi dalam segala hal." Bagi mereka, menjadi satu tubuh dalam Kristus berarti tidak ada lagi sekat antara "milikku" dan "milikmu."

Penjualan harta ini bersifat sukarela, bukan paksaan (seperti terlihat dalam kasus Ananias dan Safira di Kisah Para Rasul 5). Mereka memberi karena digerakkan oleh kasih yang meluap-luap setelah dipenuhi Roh Kudus.


​Perbedaan Utama: Persepuluhan vs Berbagi Harta


Ringkasnya: Tindakan mereka adalah respon darurat sekaligus ungkapan kasih yang radikal terhadap krisis ekonomi yang dialami saudara seiman baru di Yerusalem.


Berubah Seiring Perkembangan Gereja

Bagaimana sistem "kepunyaan bersama" ini akhirnya berubah seiring perkembangan Gereja ke berbagai wilayah?

Sistem "kepunyaan bersama" (komunalisme sukarela) yang terlihat di Yerusalem mengalami transformasi signifikan ketika kekristenan mulai menyebar ke wilayah luar Palestina, seperti Asia Kecil (Turki), Yunani, dan akhirnya ke Roma (Eropa).

​Berikut adalah alasan dan proses mengapa sistem tersebut berubah:


​1. Perubahan dari "Krisis" ke "Stabilitas"

​Sistem di Yerusalem bersifat darurat karena adanya ribuan peziarah yang tertahan dan pengucilan ekonomi. Namun, saat Injil sampai ke Eropa:

  • ​Jemaat di Eropa (seperti di Filipi, Korintus, dan Tesalonika) tetap tinggal di rumah mereka masing-masing dan bekerja di profesi mereka semula.
  • ​Rasul Paulus sendiri menekankan pentingnya bekerja untuk menafkahi diri sendiri: "Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan" (2 Tesalonika 3:10).
  • ​Fokus berubah dari "menjual aset" menjadi "menyisihkan sebagian pendapatan" secara rutin (1 Korintus 16:2).


​2. Peralihan ke Model "Kolekte" (Pemberian Mingguan)

​Ketika gereja tersebar di wilayah yang luas, sistem kepunyaan bersama secara fisik menjadi tidak praktis. Rasul Paulus kemudian memperkenalkan sistem Kolekte yang lebih terorganisir:

Teratur: Dilakukan setiap hari pertama dalam minggu itu (Minggu).

Proporsional: Memberi sesuai dengan apa yang diperoleh, bukan lagi menjual seluruh harta (1 Korintus 16:1-2).

1 Korintus 16:1-2 (TB)  Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus, hendaklah kamu berbuat sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada Jemaat-jemaat di Galatia. Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing — sesuai dengan apa yang kamu peroleh — menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang. 

Tujuan Luas: Uang yang terkumpul tidak hanya untuk jemaat lokal, tetapi dikirim lintas negara untuk membantu jemaat di Yerusalem yang sedang mengalami kelaparan hebat (2 Korintus 8-9).


​3. Adaptasi dengan Struktur Sosial Romawi

​Di Eropa (budaya Yunani-Romawi), terdapat sistem sosial yang disebut Patronase.

​Orang-orang kaya yang bertobat (seperti Lidia di Filipi atau Filemon di Kolose) tidak menjual rumah mereka, melainkan menjadikan rumah mereka sebagai tempat ibadah (Gereja Rumah).

Mereka tetap memiliki aset tetapi menggunakannya untuk melayani jemaat. Ini menciptakan model di mana orang kaya menjadi penyokong (patron) bagi orang miskin di dalam gereja tanpa harus menghapuskan kepemilikan pribadi sepenuhnya.


​4. Munculnya Institusi Diaken

​Karena jemaat semakin besar dan kompleks, distribusi bantuan tidak lagi bisa dilakukan secara spontan dengan "menaruh uang di depan kaki rasul."

​Gereja mulai membentuk jabatan Diaken untuk mengelola perbendaharaan dan memastikan janda-janda serta orang miskin terpelihara secara sistematis (Kisah Para Rasul 6).

​Ini adalah cikal bakal sistem administrasi keuangan gereja modern.


​5. Mengapa Tidak Berlanjut sebagai "Komunisme"?

​Banyak sejarawan mencatat bahwa model "kepunyaan bersama" di Yerusalem secara finansial sulit dipertahankan dalam jangka panjang (terbukti dengan jemaat Yerusalem yang akhirnya menjadi sangat miskin dan harus dibantu oleh jemaat-jemaat di Eropa). Oleh karena itu, jemaat di Eropa mengadopsi prinsip Kedermawanan (Generosity) daripada Komunalisme (Communism).

​Menariknya, pola "kepunyaan bersama" ini tidak hilang sepenuhnya, melainkan berpindah ke dalam tradisi Monastik (Biara) di abad-abad berikutnya, di mana para biarawan/biarawati melepaskan hak milik pribadi untuk hidup bersama.


Riwayat Kembalinya Konsep Persepuluhan

Bagaimana konsep persepuluhan (10%) akhirnya "masuk kembali" ke dalam gereja setelah masa jemaat mula-mula ini berakhir?

Konsep persepuluhan (10%) tidak langsung muncul kembali begitu saja. Ada proses transisi selama ratusan tahun dari semangat "pemberian sukarela" jemaat mula-mula menuju "kewajiban hukum" di era Gereja Negara.

​Berikut adalah kronologi bagaimana persepuluhan akhirnya masuk kembali ke dalam sistem Gereja:


​1. Masa Bapa Gereja (Abad ke-2 hingga ke-4)

​Pada masa ini, persepuluhan belum menjadi kewajiban. Para tokoh seperti Ireneus dan Origenes berpendapat bahwa orang Kristen seharusnya memberi lebih dari 10% karena mereka hidup di bawah anugerah, bukan hukum. Namun, mereka mulai menyebut persepuluhan sebagai "standar minimal" bagi mereka yang masih terikat pada harta duniawi.


​2. Pelembagaan Gereja (Abad ke-4 hingga ke-5)

​Setelah Kaisar Konstantinus memeluk Kristen, Gereja menjadi institusi besar yang membutuhkan biaya operasional tinggi untuk membangun katedral dan menggaji klerus (pendeta/pastor).

​Para pemimpin gereja mulai melihat kembali ke Perjanjian Lama sebagai model administratif.

​Tokoh seperti Ambrosius dan Agustinus mulai mengajarkan bahwa persepuluhan adalah kewajiban moral untuk mendukung orang miskin dan pelayanan gereja.


​3. Konsili-Konsili Gereja (Abad ke-6)

​Aturan ini mulai diformalkan dalam hukum gereja (hukum kanon).

​Konsili Tours (567 M) dan Konsili Macon (585 M) secara resmi memerintahkan umat untuk membayar persepuluhan. Mereka yang menolak mulai diancam dengan sanksi gerejawi (ekskomunikasi).


​4. Campur Tangan Negara: Hukum Sipil (Abad ke-8)

​Perubahan terbesar terjadi pada masa Kekaisaran Franka di bawah kepemimpinan Charlemagne (Karolus Agung).

​Pada tahun 779 M, Charlemagne mengeluarkan hukum sipil yang mewajibkan persepuluhan di seluruh wilayah kekaisarannya (sekarang mencakup Prancis, Jerman, dan Italia).

​Di titik ini, persepuluhan bukan lagi sekadar sumbangan keagamaan, melainkan pajak negara yang dipungut oleh pemerintah untuk mendukung infrastruktur gereja dan kesejahteraan sosial.


​5. Mengapa Persepuluhan "Dihidupkan Kembali"?

​Ada beberapa alasan strategis mengapa sistem 10% ini diambil kembali dari Perjanjian Lama:

  • ​Kepastian Finansial: Dibandingkan sistem sukarela yang jumlahnya tidak menentu, angka 10% memberikan anggaran yang stabil bagi gereja.
  • ​Sistem Sosial: Pada Abad Pertengahan, gereja berfungsi sebagai "kementerian kesejahteraan." Uang persepuluhan digunakan untuk mengelola rumah sakit, sekolah, dan bantuan bagi fakir miskin di desa-desa.
  • ​Justifikasi Teologis: Teolog pada masa itu berargumen bahwa jika orang Yahudi saja wajib memberi 10%, maka orang Kristen yang menerima anugerah lebih besar seharusnya tidak memberi lebih sedikit.

Menariknya, saat Reformasi Protestan terjadi di abad ke-16, tokoh seperti Martin Luther dan Yohanes Calvin awalnya tetap mendukung persepuluhan, bukan sebagai hukum Taurat yang mengikat keselamatan, melainkan sebagai cara praktis yang baik untuk memelihara pelayanan gereja dan negara.


Perdebatan Saat Ini

Bagaimana perdebatan mengenai persepuluhan ini berkembang di gereja-gereja modern saat ini (antara yang mewajibkan dan yang membebaskan)?

Perdebatan mengenai persepuluhan di gereja modern saat ini sangat dinamis dan biasanya terbagi ke dalam dua arus utama: kelompok yang melihatnya sebagai kewajiban teologis (hukum) dan kelompok yang melihatnya sebagai prinsip sukarela (anugerah).


​1. Kelompok yang Mewajibkan (Pro-Persepuluhan)

​Umumnya dianut oleh gereja-gereja beraliran Pentakosta, Karismatik, dan sebagian Injili.

  • ​Argumen "Milik Tuhan": Mereka mengacu pada Maleakhi 3:10, yang menyatakan bahwa persepuluhan adalah milik Tuhan yang "dicuri" jika tidak dikembalikan. Melalaikannya dianggap menutup "tingkap-tingkap langit" berkat.
  • ​Prinsip Melkisedek: Mereka berargumen bahwa Abraham memberi persepuluhan kepada Melkisedek sebelum hukum Taurat ada (Kejadian 14). Karena Yesus adalah Imam Besar menurut aturan Melkisedek, maka persepuluhan dianggap berlaku kekal, melampaui hukum Taurat.
  • ​Minimal Standar: Pandangan bahwa jika umat Perjanjian Lama yang belum menerima penebusan Kristus saja memberi 10%, maka orang Kristen yang sudah ditebus seharusnya memberi minimal 10% sebagai dasar ketaatan.
  • ​Keberlangsungan Pelayanan: Secara praktis, persepuluhan dianggap sebagai "mesin ekonomi" yang paling stabil untuk membiayai penginjilan, pembangunan gereja, dan gaji pelayan Tuhan.


​2. Kelompok yang Membebaskan (Pemberian Sukarela)

​Umumnya dianut oleh Gereja Katolik, beberapa Gereja Protestan Arus Utama (Lutheran, Reformed), dan teolog progresif.

  • ​Penggenapan Hukum Taurat: Mereka berargumen bahwa persepuluhan adalah bagian dari hukum seremonial Taurat yang sudah digenapi dan diakhiri oleh Kristus. Mewajibkan 10% dianggap kembali hidup di bawah "hukum" dan bukan "anugerah".
  • ​Prinsip 2 Korintus 9:7: Fokus utama mereka adalah "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan." Angka 10% dianggap legalistik jika dipatok sebagai standar wajib.
  • Keadilan Ekonomi: Kelompok ini sering mengkritik bahwa 10% bagi orang miskin jauh lebih berat bebannya daripada 10% bagi orang kaya. Mereka lebih menekankan Pemberian Proporsional (memberi sesuai kemampuan), di mana orang kaya mungkin seharusnya memberi 30-50%, sementara orang sangat miskin mungkin tidak perlu memberi materi sama sekali.
  • Kritik Penyalahgunaan: Ada kekhawatiran bahwa penekanan berlebihan pada persepuluhan (terutama dalam Prosperity Gospel atau Teologi Kemakmuran) sering digunakan untuk mengeksploitasi jemaat demi kekayaan pemimpin gereja.

​Perbandingan Sudut Pandang Modern



3. Fenomena Baru: "Generous Giving"

​Di luar dua kutub tersebut, muncul gerakan yang mengajak jemaat untuk tidak berdebat soal "apakah 10% itu wajib atau tidak," melainkan beralih ke konsep Stewardship (Penatalayanan).

Konsep ini mengajarkan bahwa 100% harta kita adalah milik Tuhan. Pertanyaannya bukan lagi "Berapa yang harus saya beri untuk Tuhan?", tapi "Berapa dari uang Tuhan yang boleh saya pakai untuk diri saya sendiri?".

​Pola ini sering kali membuat jemaat memberikan jauh lebih banyak dari 10% secara sukarela, meniru semangat Jemaat Mula-mula yang kita bahas sebelumnya.


Ikuti Teladan Jemaat Awal

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya bahwa Jemaat Awal tidak memakai sistem persepuluhan. 

Coba Anda baca Kitab Kisah Para Rasul serta surat-surat Para Rasul, tidak ada yang mengajarkan untuk wajib memberi persepuluhan. Jika memang persepuluhan itu diwajibkan, sudah pasti disebutkan di Kitab-Kitab Perjanjian Baru.

Jadi untuk persembahan Gereja, saya lebih memilih Pandangan Sukarela, yang menekankan Pemberian Proporsional, sehingga adil untuk jemaat diberbagai kalangan dan dilakukan rutin (misal mingguan). 

Ini selaras dengan apa yang oleh banyak teolog disebut sebagai "New Testament Giving" (Pemberian Perjanjian Baru). Pandangan ini tidak menggunakan angka 10% sebagai "pajak" agama, melainkan sebagai prinsip ketaatan yang lahir dari kemerdekaan dalam Kristus.

​Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai prinsip Pemberian Proporsional dan Rutin tersebut:


​1. Dasar Alkitabiah: Prinsip 1 Korintus 16:2

​Rasul Paulus memberikan panduan yang sangat praktis dan adil kepada jemaat di Korintus:

"Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing—sesuai dengan apa yang kamu peroleh—menyisihkan sesuatu dan menyimpannya..."

​Dari satu ayat ini, kita menemukan empat pilar pemberian Anda:

  • Periodik/Rutin: "Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu" (Menjadikannya gaya hidup, bukan sekadar emosi sesaat).
  • Pribadi: "Hendaklah kamu masing-masing" (Setiap orang terlibat, tanpa memandang status).
  • Proporsional: "Sesuai dengan apa yang kamu peroleh" (Berdasarkan kemampuan ekonomi nyata).
  • Terencana: "Menyisihkan sesuatu dan menyimpannya" (Bukan sisa uang di kantong, tapi diprioritaskan).

​2. Mengapa Ini Dianggap Lebih Adil?

​Dalam sistem persepuluhan kaku (10% untuk semua), terjadi ketimpangan beban hidup:

  • Bagi si Miskin: 10% dari penghasilan yang pas-pasan bisa berarti kehilangan biaya makan sehari atau biaya sekolah anak. Bebannya sangat berat.
  • Bagi si Kaya: 10% dari penghasilan miliaran mungkin tidak akan memengaruhi gaya hidupnya sama sekali. Bebannya sangat ringan.

​Pemberian Proporsional memungkinkan:

  • ​Orang yang sedang dalam kesulitan keuangan memberi sedikit dengan kepala tegak (seperti janda miskin yang memberi dua peser).
  • ​Orang yang berkelimpahan didorong untuk memberi lebih dari 10% (misal 20%, 30%, atau lebih) karena kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi.

​3. Motivasi: Respon terhadap Anugerah, Bukan Barter

​Dalam pandangan sukarela, pemberian adalah respon syukur, bukan transaksi (barter) dengan Tuhan.

  • ​Kita tidak memberi supaya diberkati (seperti konsep "pancingan" berkat).
  • ​Kita memberi karena kita sudah diberkati oleh anugerah keselamatan di dalam Kristus.
  • Ini menjaga hati jemaat dari kekecewaan jika secara finansial keadaan tidak langsung membaik setelah memberi.


​4. Implementasi Praktis dalam Jemaat Modern

​Bagaimana menjalankan prinsip ini secara mingguan?

  • Self-Assessment (Evaluasi Diri): Jemaat didorong untuk berdoa dan menentukan sendiri persentase atau jumlah yang mereka anggap jujur di hadapan Tuhan berdasarkan pendapatan mereka.
  • Kolekte yang Terarah: Gereja memberikan laporan transparan tentang ke mana uang tersebut disalurkan (misal: sekian persen untuk operasional, sekian persen untuk diakonia/orang miskin, sekian persen untuk misi).
  • Edukasi Keuangan: Gereja membantu jemaat mengelola keuangan keluarga agar mereka bisa memiliki surplus untuk dapat berbagi dengan orang lain.

Intisari: Pandangan ini mengembalikan martabat jemaat sebagai "penatalayan" (steward) atas milik Tuhan, di mana integritas pribadi di hadapan Tuhan lebih diutamakan daripada sekadar memenuhi target angka.

Awan (Andreas Hermawan)

Komentar

Postingan Populer