Kenapa Menjauhi Percabulan Masuk di Konsili Yerusalem?



"Hasil konsili Yerusalem menyebutkan tentang menjauhi percabulan. Kenapa itu disebutkan padahal itu sudah jelas adalah dosa, bukan suatu perdebatan. Apa ada latar belakangnya untuk hal ini?"

Ini adalah pertanyaan saya ketika membaca tentang Konsili Yerusalem yang ada di Kisah Para Rasul 15:1-21. 

Memang benar bahwa bagi orang Yahudi, percabulan (porneia) sudah jelas adalah dosa berdasarkan Hukum Taurat. Namun, dalam konteks Konsili Yerusalem, penyebutan ini memiliki latar belakang sosiologis dan religius yang sangat spesifik terkait dunia Romawi-Yunani (Gentiles) pada masa itu.

​1. Hubungan Erat dengan Penyembahan Berhala

​Pada abad pertama, percabulan bukan hanya dianggap sebagai pelanggaran moral pribadi, tetapi seringkali merupakan bagian integral dari ritual penyembahan berhala.

Pelacuran Bakti (Temple Prostitution): Di kuil-kuil kafir seperti kuil Afrodit di Korintus, melakukan hubungan seksual dengan pelacur kuil dianggap sebagai bentuk ibadah atau penyatuan dengan dewa/dewi.

​Karena Konsili Yerusalem sedang membahas bagaimana orang non-Yahudi harus meninggalkan gaya hidup kafir mereka, larangan percabulan ini diletakkan berdampingan dengan larangan "makanan yang dipersembahkan kepada berhala." Keduanya adalah paket dari sistem penyembahan berhala yang lama.


​2. Standar Moral yang Berbeda

​Ada perbedaan kontras antara standar moral Yahudi dan moralitas dunia Yunani-Romawi saat itu:

Pandangan Yahudi: Sangat ketat. Seks hanya sah dalam pernikahan.

Pandangan Non-Yahudi (Kafir): Masyarakat Romawi saat itu sangat longgar. Perzinaan atau hubungan seks di luar nikah seringkali dianggap biasa atau bukan pelanggaran serius selama tidak melanggar hak milik pria lain.

​Dengan mencantumkan ini, para rasul menegaskan bahwa menjadi Kristen berarti mengadopsi standar kekudusan Allah yang baru, yang sangat berbeda dengan budaya publik mereka.


​3. "Hukum Noakh" untuk Pendatang

​Banyak ahli Alkitab berpendapat bahwa empat larangan dalam Konsili Yerusalem (menjauhi makanan berhala, darah, daging binatang yang mati lemas, dan percabulan) didasarkan pada Imamat 17-18.

​Dalam tradisi Yahudi, aturan-aturan ini dianggap sebagai kewajiban bagi "orang asing yang tinggal di tengah-tengah Israel."

​Agar orang Kristen Yahudi dan Kristen non-Yahudi bisa makan bersama dalam satu meja (persekutuan), orang non-Yahudi harus setidaknya mengikuti standar kesucian dasar ini supaya tidak dianggap "najis" oleh saudara Yahudi mereka.

Jadi, percabulan disebutkan bukan karena para rasul ragu itu dosa atau bukan, melainkan untuk menegaskan bahwa kekristenan menuntut pemisahan total dari gaya hidup kafir, terutama yang berkaitan dengan ritual-ritual kuil yang saat itu dianggap "normal" oleh masyarakat non-Yahudi.

Awan (Andreas Hermawan)

Komentar

Postingan Populer