Pernahkah Anda bertanya dalam hati saat membaca kisah Taman Eden: "Kalau memang manusia dilarang keras memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, kenapa Tuhan malah menaruhnya tepat di tengah-tengah taman? Di tempat yang paling mudah dilihat, paling mudah dijangkau, paling gampang ditemukan siapa saja. Kenapa tidak disembunyikan saja di balik gunung, di dalam gua, atau di balik semak belukar yang sangat sulit dicari manusia?"
Pertanyaan ini sangat wajar. Banyak orang yang baru mulai belajar Alkitab maupun yang sudah lama percaya pun pernah memikirkannya. Bahkan ada yang sempat berpikir, "Jangan-jangan Tuhan sengaja menjebak Adam dan Hawa?"
Mari kita buka Firman Tuhan bersama-sama, untuk mengerti hikmat di balik hal ini.
"TUHAN Allah menumbuhkan dari dalam tanah segala pohon yang enak dipandang dan yang baik dimakan, demikian juga pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat." — Kejadian 2:9 (TB)
"TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: 'Dari segala pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.'" — Kejadian 2:16–17 (TB)
Dari dua ayat ini jelas tertulis: letaknya memang di tengah, dan Tuhan berfirman sangat jelas apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, beserta akibatnya. Berikut adalah 5 alasan utama yang bisa didapat dari Alkitab, kenapa Tuhan memilih cara itu dan bukan dengan menyembunyikannya.
1. Tuhan tidak menciptakan ROBOT, tapi makhluk yang bisa MENGASIHI dengan sukarela
Ini alasan yang paling utama. Kasih yang sejati tidak pernah bisa dipaksa. Kalau Anda dipaksa bilang "aku sayang kamu", itu bukan kasih, itu hanya kepatuhan karena takut atau karena tidak ada jalan lain.
Kalau Tuhan menyembunyikan pohon itu sampai sama sekali tidak bisa ditemukan atau dijangkau, maka Adam dan Hawa taat bukan karena mereka memilih mengasihi Tuhan, tapi karena memang tidak ada pilihan lain. Mereka akan seperti boneka atau robot yang bergerak persis seperti yang sudah diprogramkan, tidak punya hati, tidak punya keputusan sendiri.
Supaya kasih itu nyata, harus ada pilihan. Harus ada kemungkinan untuk berkata "ya" kepada Tuhan, tapi juga ada kemungkinan untuk berkata "tidak". Itulah sebabnya Tuhan meletakkan pohon itu di tempat yang jelas terlihat: supaya keputusan mereka benar-benar keputusan yang diambil dengan sadar, dengan mata terbuka, dari lubuk hati yang paling dalam.
"Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu." — Ulangan 30:19 (TB)
"Kalau kamu anggap buruk untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah... Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" — Yosua 24:15 (TB)
Contoh sederhana: Seorang ayah melarang anaknya mengambil uang di dompetnya. Kalau dompet itu dikunci rapat-rapat di dalam lemari besi sampai sama sekali tidak bisa dipegang, anak itu tidak mengambil uang bukan karena dia anak yang jujur, tapi karena tidak bisa ambil. Tapi kalau dompet itu ditaruh di meja tengah ruangan, dan ayah berkata "ini jangan diambil", lalu anak itu tetap tidak menyentuhnya — di situlah terlihat kejujuran yang sesungguhnya.
2. Ditaruh di TENGAH artinya: Hubungan dengan Tuhan adalah HAL YANG PALING UTAMA
Dalam kebiasaan orang zaman dulu maupun sekarang, sesuatu yang ditaruh di tengah-tengah berarti itu yang paling penting, yang menjadi pusat, yang menjadi patokan segala sesuatu. Kalau ditaruh di pojok atau di pinggir, artinya itu hal tambahan saja, hal sampingan, hal yang tidak terlalu mendesak.
Tuhan meletakkan pohon itu tepat di tengah taman, persis di sebelah pohon kehidupan (Kejadian 2:9), supaya manusia mengerti satu hal besar: Ketaatan dan percaya kepada-Ku bukan hal tambahan dalam hidupmu, bukan hobi, bukan kegiatan hari Minggu saja. Ini adalah PUSAT dari seluruh hidupmu.
Dia tidak mau kehendak-Nya menjadi sesuatu yang harus dicari-cari susah payah, tersembunyi di tempat gelap. Firman-Nya jelas, kehendak-Nya terang, dan Dia ingin hubungan dengan-Nya menjadi hal yang paling utama, yang selalu ada di hadapan mata kita setiap hari.
"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." — Amsal 3:5–6 (TB)
3. Buah itu SENDIRI BUKANLAH BARANG JAHAT ATAU BERACUN
Banyak orang salah paham mengira buah itu beracun, atau isinya jahat, makanya dilarang. Itu tidak benar. Ingatlah ayat ini:
"Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh, amat baiklah semuanya itu." — Kejadian 1:31 (TB)
Semua yang Tuhan buat, termasuk pohon itu, pada mulanya sangat baik. Lalu kenapa dilarang?
Nama pohon itu adalah "pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat". Artinya: Selama Adam dan Hawa hidup dekat dengan Tuhan, mereka tahu yang baik saja, karena ukuran baik dan jahat ditentukan oleh Tuhan sendiri. Kalau mereka memakan buah itu, artinya mereka berkata kepada Tuhan: "Terima kasih Tuhan, tapi sekarang aku mau menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang jahat menurut versiku sendiri, aku mau jadi hakim atas diriku sendiri, aku tidak mau lagi bergantung sepenuhnya pada Engkau."
Jadi masalahnya bukan pada buahnya, tapi pada sikap hati: apakah kita mau percaya dan taat kepada Tuhan, atau lebih percaya pada akal dan keinginan diri sendiri. Pohon itu hanyalah alat ujian, seperti kertas ujian di sekolah. Kertas ujian itu sendiri tidak jahat, tapi lewat kertas itulah terlihat seberapa jauh kita sudah belajar dan percaya.
"Janganlah ada orang, apabila ia dicobai, berkata: 'Aku dicobai oleh Allah.' Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi setiap orang dicobai oleh tarikannya sendiri dan godaan hatinya." — Yakobus 1:13–14 (TB)
Kalau Tuhan menyembunyikan pohon itu, ujiannya tidak ada gunanya lagi. Ujian baru bernilai kalau pilihannya ada di depan mata.
4. Tuhan itu JUJUR DAN TERBUKA, Dia tidak pernah main sembunyi-sembunyi
Salah satu sifat Tuhan yang paling indah adalah Dia tidak pernah menipu, tidak pernah berbuat licik, tidak pernah memasang jebakan rahasia. Dia berfirman terus terang: ini yang boleh, ini yang tidak boleh, ini akibatnya.
Andaikata Dia menyembunyikan pohon itu, lalu diam-diam menunggu manusia tersandung, barulah Dia marah dan menghukum — barulah benar Tuhan disebut tidak adil. Tapi Alkitab bersaksi sebaliknya: Tuhan meletakkannya terang-terangan di tengah, peringatannya diucapkan jelas-jelas, akibatnya dijelaskan sedini mungkin. Dia memberi kebebasan penuh, Dia tidak memaksa tangan manusia, dan Dia bertindak sangat jujur.
"Allah bukan manusia, sehingga Ia berdusta, bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Apabila Ia berfirman, tidakkah Ia melakukannya, apabila Ia berbicara, tidakkah Ia menepatinya?" — Bilangan 23:19 (TB)
"Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh." — Ulangan 30:11 (TB)
5. Bahkan di sini pun, Tuhan SUDAH MERENCANKAN JALAN KESELAMATAN
Ada satu lagi rahasia kasih karunia yang besar di balik semua ini. Tuhan sejak semula sudah tahu, bahwa dengan kebebasan yang diberikan itu, manusia pada akhirnya akan memilih jalan sendiri, akan makan buah itu, dan akan jatuh ke dalam dosa. Tapi Dia tetap meletakkan pohon itu di tengah, bukan karena Dia kejam, tapi karena Dia sudah menyiapkan jawaban atas kejatuhan itu sebelum dunia diciptakan.
Tepat setelah manusia berdosa, di Kejadian 3:15, Tuhan sudah mengucapkan janji keselamatan: akan datang Keturunan perempuan yang akan mengalahkan kuasa dosa dan maut — yaitu Tuhan Yesus Kristus. Jadi kisah di Taman Eden bukan berakhir dengan hukuman saja, tapi berakhir dengan harapan.
"Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." — Roma 5:8 (TB)
"Tetapi makin bertambah dosa, makin bertambah pula kasih karunia Allah." — Roma 5:20 (TB)
Renungan & Doa Singkat
Sampai hari ini pun, Tuhan tidak menyembunyikan firman-Nya. Dia meletakkannya jelas di dalam Alkitab, di hadapan mata kita. Setiap hari kita tetap menghadapi "pohon pengetahuan" itu dalam bentuk lain: apakah hari ini aku ikut kehendak Tuhan, atau ikut keinginanku sendiri?
Mari berdoa: Tuhan yang baik, terima kasih Engkau menciptakan kami bukan sebagai robot, tapi sebagai anak-anak yang bisa mengasihi Engkau dengan hati. Ampuni kami yang sering lebih memilih jalan sendiri daripada jalan-Mu. Ajarlah kami untuk selalu memilih Engkau, karena kami tahu rencana-Mu selalu yang terbaik bagi kami. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.
Awan (Andreas Hermawan)
