Materi Belajar Alkitab: Saat Teduh
Apa Anda menyebut diri sebagai anak Tuhan?
Sebagai anak, Anda wajib meluangkan waktu dengan Bapa setiap harinya dalam "saat teduh".
Sama seperti Yesus, Sang Anak Allah meluangkan waktuNya setiap hari dalam saat teduh, maka kita yang adalah murid sekaligus anak juga mengikuti teladan yang sama.
Saat Teduh (Quiet Time/Devotional Time) adalah waktu yang kita sisihkan secara teratur dan khusus untuk bertemu secara pribadi dengan Tuhan melalui doa dan firman-Nya.
Tujuan utama: Bukan sekadar menyelesaikan tugas agama, tetapi untuk membangun hubungan yang intim dan mendengar suara Tuhan, sehingga kita makin dekat padaNya dan diubahkan menjadi serupa dengan Kristus.
DASAR ALKITABIAH SAAT TEDUH
Konsep Saat Teduh berakar kuat dalam praktik tokoh-tokoh Alkitab, terutama Tuhan Yesus sendiri.
Dasar utamanya adalah teladan Yesus Kristus yang secara sengaja memisahkan diri untuk berdoa. Kita melihat hal ini dalam beberapa peristiwa penting:
Sebelum Memulai Hari: Di pagi hari waktu hari masih gelap, Yesus pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa sendirian.
Markus 1:35 (TB) Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.
Setelah Melayani Orang Banyak: Yesus sering kali menyuruh murid-murid-Nya mendahului-Nya menyeberang danau, sementara Ia naik ke atas bukit sendirian untuk berdoa hingga malam hari.
Matius 14:22-23 (TB) Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.
Dalam Tekanan Berat: Sebelum peristiwa penyaliban, di taman Getsemani, meskipun Ia membawa murid-murid-Nya, Yesus memilih untuk melangkah lebih maju sedikit untuk berdoa sendirian kepada Bapa-Nya.
Matius 26:36, 39 (TB) Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa." ... Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
Selain Yesus, kita juga melihat pribadi seperti Daud yang di tengah kesibukannya sebagai raja, secara konsisten mengatur waktu pribadi dengan Tuhan di pagi hari (Mazmur 5:4) serta merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam secara individual (Mazmur 1:2).
Dua Komponen Utama Saat Teduh
Saat Teduh yang seimbang biasanya melibatkan dua elemen utama yang saling melengkapi:
1. Firman (Merenungkan Firman)
Ini adalah bagian dimana kita merenungkan Alkitab lewat membaca, mendengar, atau melihat.
Tujuan: Mendapatkan arahan, kekuatan, penghiburan, dan teguran dari Tuhan.
Yosua 1:8 - "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian engkau akan berhasil dan beruntung."
Mazmur 119:105 - "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku."
Pikirkan pertanyaan seperti: Apa yang dikatakan ayat ini tentang Tuhan? Apa yang dikatakan ayat ini tentang saya? Adakah perintah untuk ditaati atau janji untuk diklaim?
2. Perbincangan (Berbicara kepada Tuhan)
Yakobus 4:8 - "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu."
Dalam saat teduh, kita bukan hanya berdoa satu arah, tapi 2 arah seperti yang dilakukan oleh Musa dan juga Yesus.
Ini artinya kita mengutarakan isi hati dan pikiran kita kepada Bapa dalam doa, lalu berdiam sesaat merenungkan tiap pokok doa atau permasalahan sambil membiarkan diri untuk mendengar suara Tuhan melalui hati kita.
Contoh:
- Diawali dengan pujian & penyembahan kepada Tuhan.
- Ucapan syukur atas kebaikan Tuhan selama ini, apalagi kemarin atau hari ini.
- Diam sesaat (merenung, bisa 2-3 detik atau beberapa menit).
- Ketika teringat akan dosa-dosa yang telah dilakukan, langsung minta ampun kepada Bapa dan minta kelepasan.
- Merenung lagi (beberapa detik atau menit).
- Minta Bapa untuk mengungkapkan apa yang harus Anda bertobat dan berubah.
- Diam sesaat lagi (beberapa detik atau menit).
- Ketika teringat suatu Firman yang menyatakan dalam hal apa harus berubah, langsung syukuri atas FirmanNya, mohon ampun sekarang baru sadar, lalu minta Bapa untuk memberikan kekuatan melalui Roh Kudus untuk bisa berubah.
- Merenung kembali (beberapa detik atau menit).
- Teringat akan masalah rumah tangga kemarin atau hari ini, langsung curhatkan ke Bapa yang baik.
- Diam sesaat lagi (beberapa detik atau menit).
- Tiba-tiba kita seperti teringat akan kotbah atau nasehat seseorang atau diingatkan Bapa akan Firman tertentu yang menjadi jawaban dari masalah tersebut, langsung syukuri atas jawabanNya. Tapi jika ragu itu adalah jawabanNya, minta Bapa untuk beri kejelasan.
- Merenung kembali (beberapa detik atau menit).
- Dan berulang terus seperti atas, sampai tidak ada lagi "bahan perbincangan" Anda.
- Ucapkan syukur atas waktu indah bersama Bapa, imani akan jawabanNya, lalu tutup dalam Nama Yesus.
KENAPA SAAT TEDUH BISA GAGAL?
Membangun kebiasaan Saat Teduh tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya kita merasa waktu yang kita habiskan terasa hambar atau tidak mengubah apa pun. Sering kali, hal ini terjadi bukan karena Tuhan tidak ingin berbicara, melainkan karena kondisi hati dan pikiran kita yang menghalangi.
Berikut adalah penjelasan mengapa Saat Teduh sering kali gagal:
1. Tidak Fokus (Pikiran yang Terpecah)
Gangguan adalah musuh utama keintiman. Di era digital, fokus kita sering teralihkan oleh notifikasi ponsel, daftar pekerjaan yang belum selesai, atau lamunan pikiran. Ketika perhatian kita terbagi, kita tidak benar-benar hadir di hadapan Tuhan.
Akibatnya: Firman yang didengar hanya lewat di telinga tanpa meresap ke hati, dan doa menjadi sekadar ucapan otomatis.
Pesan Alkitab: Yesus mengingatkan dalam perumpamaan tentang penabur, bahwa "kekuatiran dunia ini... menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah" (Markus 4:19).
2. Terburu-buru (Hanya Formalitas)
Saat Teduh gagal ketika kita memperlakukannya sebagai "tugas" yang harus segera diselesaikan agar kita bisa melakukan aktivitas lain. Kita terjebak dalam rutinitas tanpa kerinduan.
Jika kita memberi Tuhan hanya "sisa-sisa" waktu dengan tergesa-gesa, kita tidak memberikan ruang bagi Roh Kudus untuk berbicara.
Akibatnya: Kita kehilangan kedalaman. Hubungan yang terburu-buru tidak akan pernah menghasilkan pengenalan yang intim.
Pesan Alkitab: Mazmur mengajak kita untuk diam dan tenang. "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!" (Mazmur 46:11). Ketenangan membutuhkan waktu, bukan ketergesaan.
3. Keras Hati dan Sombong
Ini adalah penghalang yang paling berbahaya. Keras hati terjadi ketika kita mendengar Firman tetapi tidak berniat untuk menaatinya jika tidak sesuai dengan kemauan kita. Kesombongan muncul saat kita merasa sudah tahu segalanya, sehingga kita tidak lagi datang dengan sikap seorang "murid" yang ingin diajar.
Akibatnya: Kita mungkin mendapatkan informasi intelektual tentang Alkitab, tetapi tidak mengalami transformasi karakter karena hati kita tertutup bagi teguran Tuhan.
Pesan Alkitab: "Tuhan menentang orang yang sombong, tetapi mengasihani orang yang rendah hati" (Yakobus 4:6). Tanpa kerendahan hati untuk dibentuk, Saat Teduh hanya akan menjadi ritual yang kosong.
Cara Mengatasinya
- Siapkan Hati: Sebelum mulai, berdoalah singkat: "Tuhan, tolong aku untuk fokus dan lembutkan hatiku hari ini."
- Singkirkan Gangguan: Jauhkan ponsel atau benda apa pun yang bisa memecah konsentrasi.
- Kualitas di atas Kuantitas: Lebih baik merenungkan satu ayat dengan sungguh-sungguh selama 10 menit daripada membaca satu kitab dengan terburu-buru tanpa pengertian.
TIDAK WAJIB BACA ALKITAB
Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk menjadi "pembaca buku", melainkan menjadi "perenung Firman".
Kekakuan pada metode "membaca" sering kali membuat orang yang memiliki keterbatasan (fisik, kognitif, atau akses) merasa bersalah atau dianggap kurang rohani, padahal inti dari Saat Teduh adalah menyerap Firman ke dalam hati.
Sering kali kita terjebak dalam aturan manusia yang menganggap Saat Teduh hanya sah jika dilakukan dengan membaca Alkitab secara fisik. Namun, Alkitab sendiri menekankan pentingnya merenungkan (meditate) Firman, bukan sekadar kemampuan literasi.
1. Fokus pada "Merenungkan" (Hagah)
Dalam bahasa Ibrani, kata merenungkan (hagah) berarti bergumam, merenungkan pelan-pelan, atau memikirkan secara mendalam. Perintah Tuhan kepada Yosua adalah untuk merenungkan Taurat siang dan malam (Yosua 1:8), bukan sekadar menamatkan bacaan.
Pesan Utama: Tuhan menginginkan Firman-Nya menetap di dalam hati kita, apa pun medianya.
2. Menghargai Keterbatasan dan Keragaman
Kita harus ingat bahwa di zaman Alkitab, mayoritas orang adalah buta huruf dan tidak memiliki gulungan Kitab Suci pribadi. Mereka mengenal Tuhan dengan mendengarkan pembacaan Kitab di rumah ibadah. Oleh karena itu, Saat Teduh tidak boleh menjadi kaku bagi mereka yang:
- Memiliki keterbatasan fisik (misalnya: tunanetra).
- Memiliki keterbatasan kognitif atau kesulitan memahami teks tertulis.
- Tidak memiliki akses atau kemampuan membaca yang baik (tidak punya Alkitab, tidak bisa membaca).
3. Media yang Beragam dalam Saat Teduh
Saat Teduh adalah momen komunikasi dua arah. Anda bisa merenungkan Firman melalui berbagai cara sesuai dengan kemampuan dan kenyamanan Anda:
- Mendengar: Menggunakan Alkitab suara, podcast renungan, atau khotbah audio. Ingat bahwa "iman timbul dari pendengaran" (Roma 10:17).
- Melihat: Membaca buku Renungan atau Menonton video seri belajar Alkitab (seperti The Chosen atau video eksposisi Alkitab) yang membantu memvisualisasikan kebenaran Tuhan.
- Mengingat: Mengingat kembali kotbah atau Firman yang pernah dibaca, didengar atau dilihat di waktu lalu, lalu merenungkannya.
4. Menghindari "Agama Teks" yang Kaku
Jangan sampai ritual "membaca satu pasal" menjadi sekadar mencentang daftar tugas (checklist) tanpa ada perubahan hati. Jika Anda hanya mampu merenungkan satu ayat melalui pendengaran namun ayat itu mengubah karakter Anda, itu jauh lebih berharga daripada membaca sepuluh pasal dengan terburu-buru tanpa pengertian.
Intinya: Saat Teduh adalah tentang kehadiran, bukan metode. Tuhan melihat hati yang rindu untuk mengerti kehendak-Nya, baik itu dilakukan lewat mata, telinga, maupun perenungan pikiran.
DOA DENGAN HATI
Dalam Saat Teduh, doa bukanlah sebuah mantra atau kewajiban formal seperti laporan dari bawahan ke atasannya, melainkan momen di mana kita datang sebagai anak kepada Bapa-Nya. Doa adalah jembatan komunikasi di mana kita mencurahkan segala sesuatu yang ada di dalam batin kita.
1. Mencurahkan Isi Hati dan Pikiran
Tuhan Yesus mengundang kita untuk datang apa adanya. Di hadapan Bapa di Sorga, kita tidak perlu berpura-pura. Kita boleh mencurahkan segala kekhawatiran, kegembiraan, pertanyaan, bahkan beban yang paling berat sekalipun.
Mazmur 62:9 – "Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita."
Matius 11:28 - "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."
Filipi 4:6 - "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur."
Matius 7:7 - "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan kepadamu."
2. Kerendahan Hati dan Sikap Hormat
Meskipun kita bisa datang dengan bebas kepada Bapa, kita harus tetap sadar kepada siapa kita berbicara. Ia adalah Allah yang Mahakudus dan Pencipta semesta alam. Kerendahan hati mengakui bahwa kita membutuhkan Dia dan tunduk pada otoritas-Nya.
1 Petrus 5:6 – "Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya Kamu ditinggikan-Nya pada waktunya."
3. Tidak Bertele-tele
Tuhan Yesus secara khusus memperingatkan agar kita tidak berdoa dengan kata-kata yang berbelit-belit atau kosong. Bapa sudah mengetahui apa yang kita butuhkan bahkan sebelum kita mengucapkannya. Doa yang seperlunya dan jujur lebih berharga daripada doa panjang yang tidak berasal dari hati.
Matius 6:7-8 – "Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah... karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya."
Pengkhotbah 5:1 – "Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah; karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit."
Doa dalam Saat Teduh adalah percakapan dari hati ke hati. Janganlah merasa terbebani untuk menyusun kalimat yang puitis. Cukuplah bicara dengan jujur, seperlunya, dan hormat, seperti seorang anak yang berbicara dengan ayahnya yang sangat ia kasihi dan segani.
Langkah Lanjut: Rencana Tindakan
- Tentukan Waktu: Kapan waktu terbaik Anda untuk Saat Teduh? (Contoh: Setiap hari jam 06.00).
- Tentukan Tempat: Di mana Anda bisa menyendiri tanpa gangguan?
- Pilih Sumber Bacaan: Bagian Alkitab mana yang akan Anda baca besok? (Contoh: Melanjutkan Injil Matius).
Semoga dengan materi belajar "Saat Teduh" ini, Anda makin intim bersama Bapa, makin bahagia dan makin serupa dengan Kristus.
Awan (Andreas Hermawan)

Komentar
Posting Komentar