Ada beberapa orang Kristen yang menganut kepercayaan "Once Saved, Always Saved" (OSAS), atau dalam bahasa Indonesia populer dengan sebutan "Sekali Selamat, Tetap Selamat" (SSTS).
Secara teologis, konsep ini merujuk pada doktrin Jaminan Kekal (Eternal Security) atau Ketekunan Orang Kudus (Perseverance of the Saints). Inti dari kepercayaan ini adalah: sekali seseorang benar-benar menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara tulus, keselamatan orang tersebut terkunci secara permanen dan tidak akan pernah bisa hilang, terlepas dari apa pun yang terjadi di masa depannya.
Golongan yang Memercayai Doktrin Ini
Doktrin ini bukan dipegang oleh satu sekte atau aliran tunggal, melainkan menjadi fondasi teologis di beberapa lingkaran besar dalam kekristenan:
- Kalvinisme / Teologi Reformed: Dalam tradisi ini, doktrin ini merupakan poin terakhir dari lima poin inti Kalvinisme (yang dikenal dengan akronim TULIP). Logika mereka: karena keselamatan adalah 100% hak prerogatif dan karya Allah yang memilih manusia (bukan karena kebaikan manusia), maka Allah juga yang akan menjaga orang tersebut agar tidak pernah kehilangan imannya sampai akhir hayat.
- Gereja Baptis (Khususnya Baptis Tradisional/Mandiri): Mayoritas gereja Baptis sangat kuat mengajarkan Eternal Security. Mereka menekankan bahwa keselamatan adalah anugerah murni (grace alone) yang tidak bisa dibatalkan oleh perbuatan buruk manusia setelah ia selamat.
- Sebagian Kalangan Injili (Evangelikal) & Non-Denominasi: Banyak gereja modern dan karismatik tertentu yang mengadopsi pandangan ini untuk memberikan kepastian iman yang kokoh bagi jemaatnya.
Catatan Penting: Golongan ini umumnya menekankan bahwa jika ada orang yang "tampaknya" Kristen lalu kemudian murtad atau hidup dalam dosa secara permanen tanpa penyesalan, itu bukan berarti keselamatannya hilang. Melainkan, sejak awal orang tersebut belum pernah benar-benar bertobat atau selamat secara sejati. Jadi yang mereka percaya bukanlah "hyper grace".
Ayat-Ayat Alkitab Pendukung
Kalangan yang memegang teguh pandangan SSTS ini menggunakan deretan ayat Alkitab yang berbicara tentang perlindungan Allah, sifat hidup kekal, dan jaminan Roh Kudus. Berikut adalah ayat-ayat utama yang selalu mereka gunakan:
1. Jaminan Perlindungan Langsung dari Yesus
Yohanes 10:28-29
"Dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa."
Argumen: Ayat ini menegaskan perlindungan ganda (tangan Yesus dan tangan Bapa). Tidak ada kekuatan apa pun, termasuk iblis atau manusia itu sendiri, yang bisa merebut seseorang keluar dari keselamatan Allah.
Yohanes 6:37 & 39
"Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang... Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman."
Argumen: Yesus memastikan bahwa tugas-Nya dari Bapa adalah menjaga agar tidak ada satu pun orang percaya yang hilang/binasa.
2. Sifat Hidup yang "Kekal" (Bukan Sementara)
Yohanes 3:16
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."
Argumen: Kata "kekal" berarti abadi selamanya. Jika keselamatan itu bisa hilang di tengah jalan, maka hidup tersebut tidak bisa disebut kekal, melainkan hidup sementara.
Yohanes 5:24
"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup."
Argumen: Ayat ini menggunakan bentuk waktu sekarang (present tense) untuk "mempunyai hidup kekal" dan bentuk waktu lampau (past tense) untuk "sudah pindah". Status selamat itu sudah sah dan final saat seseorang percaya.
3. Segel dan Jaminan Roh Kudus
Efesus 1:13-14
"Di dalam Dia kamu juga... dimeterai dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya..."
Argumen: Kata "dimeterai" (sealed) pada zaman kuno menandakan kepemilikan mutlak dan legalitas yang tidak boleh dirusak. Sementara kata "jaminan" di sini menggunakan istilah arrhabon (seperti uang muka atau DP), yang menjadi garansi bahwa Allah pasti akan menyelesaikan transaksi keselamatan tersebut sampai akhir.
Efesus 4:30
"Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan."
Argumen: Manusia bisa "mendukakan" Roh Kudus melalui dosa, tetapi ayat ini menyatakan bahwa meterai itu tetap ada sampai "hari penyelamatan" (akhir zaman), artinya tidak lepas.
4. Ketidakmungkinan Terpisahkan dari Kasih Allah
Roma 8:38-39
"Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita."
Argumen: Daftar ini mencakup segala sesuatu di alam semesta. Karena diri kita sendiri juga adalah "makhluk/ciptaan", maka keputusan kita di masa depan pun tidak mampu memisahkan kita dari kasih keselamatan Allah.
5. Allah yang Memulai, Allah yang Menyelesaikan
Filipi 1:6
"Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada kesudahannya pada hari Kristus Yesus."
Argumen: Keselamatan didasarkan pada kesetiaan Allah, bukan kedisplinan manusia. Jika Allah yang memulai iman seseorang, Dia berkomitmen untuk mengawalnya sampai garis akhir.
1 Yohanes 5:13
"Semuanya ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu mempunyai hidup yang kekal."
Argumen: Penulis menggunakan kata "tahu" (know), bukan "berharap" atau "mengira-ngira". Penganut SSTS percaya bahwa orang Kristen seharusnya hidup dalam kepastian mutlak, bukan dalam ketakutan kehilangan keselamatan setiap kali mereka berbuat dosa.
Golongan Kondisional (Non-SSTS)
Golongan yang tidak setuju dengan pandangan Sekali Selamat Tetap Selamat (SSTS) umumnya berasal dari aliran Arminianisme, teologi Katolik, Ortodoks, serta mayoritas gereja Pentakosta dan Karismatik.
Secara umum, dasar pemikiran mereka adalah bahwa keselamatan itu bersyarat atau kondisional. Allah memang menyediakan keselamatan sebagai anugerah murni, tetapi manusia memiliki kehendak bebas (free will) untuk menerima, menjaga, atau justru menolak dan meninggalkan anugerah tersebut (murtad).
Berikut adalah sanggahan dan cara pandang kelompok non-SSTS terhadap ayat-ayat yang kerap digunakan sebagai pilar doktrin Sekali Selamat, Tetap Selamat:
1. Sanggahan terhadap Yohanes 10:28-29
Argumen SSTS: Tidak ada yang bisa merebut domba dari tangan Yesus dan Bapa.
Sanggahan: Kelompok non-SSTS menekankan bahwa janji perlindungan di ayat 28-29 tidak bisa dipisahkan dari syarat di ayat sebelumnya, yaitu Yohanes 10:27: "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku."
Dalam teks asli bahasa Yunani, kata "mendengarkan" dan "mengikuti" menggunakan bentuk present continuous active, artinya tindakan itu harus dilakukan secara terus-menerus. Janji "tidak akan direbut" hanya berlaku selama domba itu tetap mendengarkan dan mengikuti Yesus. Benar bahwa musuh dari luar (seperti iblis) tidak bisa merebut kita, tetapi domba itu sendiri secara sukarela bisa memilih untuk melompat keluar dari pagar dan meninggalkan Sang Gembala.
2. Sanggahan terhadap Yohanes 6:37 & 39
Argumen SSTS: Kehendak Bapa adalah agar Yesus tidak kehilangan satu pun orang yang diberikan kepada-Nya.
Sanggahan: Kelompok non-SSTS berargumen bahwa "kehendak Allah" tidak selalu terjadi secara otomatis jika manusia menolaknya dengan tegar tengkuk (misalnya dalam Matius 23:37, Yesus mau mengumpulkan Yerusalem, tetapi mereka tidak mau).
Sebagai bukti konkret bahwa orang yang "diberikan Bapa" bisa terhilang, mereka menunjuk pada Yohanes 17:12, di mana Yesus berdoa: "Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka... Tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa (Yudas Iskariot)." Yudas awalnya dipilih dan diberikan kepada Yesus, namun ia akhirnya terhilang karena pilihannya sendiri untuk berkhianat.
3. Sanggahan terhadap Yohanes 3:16 & Yohanes 5:24
Argumen SSTS: Hidup yang diterima adalah hidup "kekal" (abadi), dan statusnya "sudah pindah" dari maut ke hidup.
Sanggahan: Kata "percaya" (pisteuon) dalam Yohanes 3:16 secara tata bahasa Yunani berarti "orang yang terus-menerus percaya", bukan iman satu kali di masa lalu lalu selesai.
Mengenai kata "kekal", yang dimaksud kekal adalah sifat dari hidup itu sendiri (yaitu hidup ilahi milik Allah yang tidak ada akhirnya). Namun, kepemilikan manusia atas hidup kekal itu bergantung pada apakah ia tetap melekat pada sumbernya (Yesus). Jika seseorang memotong dirinya dari pokok anggur (Yohanes 15:6), maka ia tidak lagi memiliki hidup kekal tersebut. Status "sudah pindah dari maut" adalah kondisi saat ini, yang bisa berbalik jika seseorang kembali berjalan menuju maut lewat kemurtadan.
4. Sanggahan terhadap Efesus 1:13-14 & Efesus 4:30
Argumen SSTS: Roh Kudus adalah meterai kepemilikan mutlak dan jaminan (arrhabon) yang tidak bisa dibatalkan.
Sanggahan: Dalam hukum kuno maupun modern, sebuah "jaminan" (down payment) atau meterai kontrak bisa saja hangus atau rusak jika salah satu pihak melakukan pelanggaran kontrak yang fatal.
Alkitab sendiri berulang kali memberikan peringatan bahwa hubungan dengan Roh Kudus bisa rusak. Kita diperingatkan untuk tidak "mendukakan" Roh Kudus (Ef. 4:30), jangan "memadamkan" Roh (1 Tes. 5:19), dan bahkan ada peringatan ngeri tentang orang yang "menghina Roh kasih karunia" (Ibrani 10:29). Jika seseorang terus-menerus mengeraskan hati, meterai itu bisa rusak karena penolakan manusia itu sendiri.
5. Sanggahan terhadap Roma 8:38-39
Argumen SSTS: Tidak ada makhluk atau kuasa apa pun yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah.
Sanggahan: Perhatikan daftar yang ditulis Rasul Paulus: maut, hidup, malaikat, pemerintah, kuasa, yang ada sekarang, yang akan datang, dsb. Kelompok non-SSTS menunjukkan bahwa dalam daftar panjang faktor eksternal tersebut, "dosa" dan "pilihan bebas manusia untuk murtad" tidak tercantum.
Paulus sedang meyakinkan jemaat Roma bahwa penderitaan fisik dan aniaya dari luar tidak akan bisa menjauhkan Allah dari mereka. Namun, Paulus tidak mengatakan bahwa manusia tidak bisa memisahkan dirinya sendiri dari Allah melalui ketidakpercayaan atau kekerasan hati untuk hidup dalam dosa.
6. Sanggahan terhadap Filipi 1:6
Argumen SSTS: Allah yang memulai pekerjaan baik (iman), Dia yang pasti menyelesaikannya.
Sanggahan: Ayat ini dipandang sebagai bentuk keyakinan pastoral dan doa optimis Paulus terhadap jemaat Filipi secara keseluruhan (korporat) karena mereka adalah jemaat yang mendukung pelayanannya, bukan sebuah jaminan mutlak tanpa syarat untuk setiap individu.
Buktinya, di dalam kitab yang sama, Paulus justru memperingatkan mereka di Filipi 2:12: "...tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar." Jika keselamatan itu otomatis diselesaikan oleh Allah tanpa bagian dari manusia, Paulus tidak perlu menyuruh mereka mengerjakannya dengan rasa takut dan gentar.
7. Sanggahan terhadap 1 Yohanes 5:13
Argumen SSTS: Penulis ingin agar orang Kristen "tahu" (memiliki kepastian mutlak) bahwa mereka punya hidup kekal.
Sanggahan: Kepastian yang dimaksud di sini adalah kepastian yang sifatnya bersyarat saat ini (kondisional), bukan jaminan masa depan yang membuat orang boleh hidup sembarangan.
Seluruh surat 1 Yohanes justru ditulis untuk memberikan tes-tes bagi iman yang hidup. Yohanes menegaskan bahwa orang yang "tahu" memiliki hidup kekal adalah mereka yang hidupnya menuruti perintah Allah (1 Yoh. 2:3) dan mengasihi saudaranya (1 Yoh. 3:14). Jika seseorang berhenti mengasihi dan hidup dalam dosa, maka berdasarkan kriteria Yohanes sendiri, orang tersebut tidak lagi memiliki dasar untuk mengklaim bahwa ia memiliki hidup kekal.
Argumen Non-SSTS
Selain memberikan sanggahan terhadap ayat-ayat pilar SSTS, golongan non-SSTS (Arminian, Katolik, Pentakosta, dll.) memiliki "amunisi" argumen ofensif mereka sendiri. Mereka mengajukan sekumpulan argumen dan ayat Alkitab yang secara eksplisit memperingatkan tentang bahaya kehilangan keselamatan, kemurtadan, dan penghapusan nama dari surga.
Berikut adalah argumen tambahan dan ayat-ayat utama yang digunakan oleh golongan non-SSTS:
1. Argumen Kemurtadan Nyata (Orang Kristen Bisa Murtad)
Golongan non-SSTS berargumen bahwa Alkitab dengan sangat jelas menggambarkan kondisi di mana seseorang yang sudah benar-benar Kristen dan menerima Roh Kudus, bisa berbalik arah, meninggalkan iman, dan akhirnya binasa.
Ibrani 6:4-6
"Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi bagi pertobatan..."
Analisis Argumen: Ayat ini adalah salah satu dasar terkuat non-SSTS. Penulis Ibrani menggunakan 4 deskripsi yang sangat kuat untuk menggambarkan orang Kristen sejati (bukan Kristen KTP). Jika orang dengan kriteria seotentik ini bisa "murtad lagi", maka keselamatan jelas bisa hilang.
1 Timotius 4:1
"Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan."
Analisis Argumen: Seseorang tidak bisa "murtad" (keluar) dari iman jika sejak awal ia tidak pernah berada "di dalam" iman tersebut.
2. Argumen Penghapusan Nama dari Kitab Kehidupan
Jika keselamatan itu mutlak sekali selamat tetap selamat, maka daftar nama di surga seharusnya bersifat permanen dan tidak bisa diganggu gugat. Namun, non-SSTS menunjukkan ayat yang menyatakan bahwa nama seseorang bisa dihapus dari Kitab Kehidupan.
Wahyu 3:5
"Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya."
Analisis Argumen: Pernyataan "Aku tidak akan menghapus namanya" secara logis menyiratkan sebuah peringatan: jika seseorang tidak "menang" (tidak setia sampai akhir), maka namanya bisa dan akan dihapus dari Kitab Kehidupan.
Keluaran 32:33
"Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: 'Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapus dari dalam kitab-Ku.'"
3. Argumen "Ranting yang Dipotong dan Dibakar"
Yesus sering menggunakan metafora pertanian untuk menggambarkan hubungan-Nya dengan orang percaya. Golongan non-SSTS menggunakan perumpamaan ini untuk menunjukkan konsekuensi dari ketidaktaatan.
Yohanes 15:2 & 6
"Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya... Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar."
Analisis Argumen: Perhatikan frasa "ranting pada-Ku". Ranting itu awalnya sudah melekat pada Pokok Anggur (Yesus). Namun, karena tidak berbuah, ranting itu dipotong dan nasib akhirnya adalah "dibakar" (metafora neraka/kebinasaan).
Roma 11:21-22
"...Sebab kalau Allah tidak menyayangkan ranting-ranting asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu. ...jika kamu tetap bertahan dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga."
Analisis Argumen: Paulus memperingatkan jemaat Roma (orang percaya) bahwa posisi mereka di dalam pohon keselamatan tidak otomatis aman. Jika mereka sombong dan tidak setia, mereka akan nasibnya sama seperti ranting yang dipotong.
4. Argumen Risiko "Diskualifikasi" Rasul Paulus
Bahkan seorang Rasul besar seperti Paulus, yang menulis sebagian besar Perjanjian Baru, tidak memandang keselamatannya dengan sikap "pasti aman jadi boleh santai".
1 Korintus 9:27
"Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (didiskualifikasi)."
Analisis Argumen: Kata Yunani yang digunakan adalah adokimos, yang berarti ditolak, tidak lulus ujian, atau didiskualifikasi. Non-SSTS berargumen, jika Rasul Paulus saja merasa ada risiko didiskualifikasi dari hadiah surgawi jika ia hidup sembarangan, apalagi orang Kristen biasa.
5. Argumen Konsekuensi Sengaja Berbuat Dosa
Keselamatan memang anugerah, tetapi anugerah itu tidak melegalkan seseorang untuk hidup berkubang dalam dosa setelah ia diselamatkan.
Ibrani 10:26-27
"Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, setelah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menebus dosa itu, tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman..."
Analisis Argumen: Ayat ini ditulis menggunakan kata ganti "kita" (artinya termasuk penulis Ibrani dan jemaat Kristen). Jika orang Kristen sengaja menetap dalam dosa, pengorbanan Yesus tidak lagi menutup dosanya, dan yang tersisa hanyalah hukuman.
2 Peter 2:20-21
"Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran dunia, tetapi belakangan terlibat lagi di dalamnya... maka akhir hidup mereka lebih buruk dari pada permulaannya."
6. Syarat "Jika" (Keselamatan Kondisional)
Alkitab Perjanjian Baru dipenuhi dengan struktur kalimat pengandaian ("Jika... maka..."). Non-SSTS berargumen bahwa jaminan akhir itu selalu bersyarat pada ketekunan manusia.
Kolose 1:22-23
"...untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela... asal kamu bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil..."
Matius 24:13
"Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat."
Kesimpulan Sudut Pandang Non-SSTS:
Bagi golongan ini, keselamatan bukanlah sebuah "kejadian satu kali di masa lalu" (saat menerima Yesus), melainkan sebuah proses berjalan bersama Tuhan (past, present, and future). Allah setia menjaga bagian-Nya, tetapi manusia bertanggung jawab penuh untuk menjaga imannya tetap menyala hingga garis akhir.
Bagaimana menurut Anda? Apa Anda percaya dengan pendapat sekali selamat tetap selamat, atau yang kondisional?
Kalau saya pribadi berada di golongan kondisional atau non-SSTS.
Awan (Andreas Hermawan)
