Belajar Tegas & Keras dari Yesus


Memikirkan sosok Yesus sering kali memunculkan bayangan tentang seorang Guru yang selalu tersenyum ramah, menggendong anak-anak, atau berbicara dengan suara berbisik penuh kelembutan. Penggambaran ini tidak salah, tetapi jika kita hanya terpaku pada sisi ini, kita kehilangan gambaran utuh tentang siapa Yesus sebenarnya.

Alkitab mencatat dengan jujur bahwa Yesus bukan sosok yang "lembek" atau penakut. Ada momen-momen khusus di mana Dia memilih untuk bersikap sangat tegas, tajam, bahkan keras. Ketegasan-Nya bukan karena Dia kehilangan kendali atas emosi-Nya, melainkan karena kasih-Nya yang radikal terhadap kebenaran.

Mari kita bedah beberapa momen penting ini untuk belajar kapan dan bagaimana kita harus meniru ketegasan-Nya.


Momen-Momen Saat Yesus Bertindak "Keras"

1. Menegor Petrus: "Enyahlah Iblis!" (Matius 16:23)

Ketika Petrus mencoba menghalangi jalan Yesus menuju salib dengan alasan "kasihan", Yesus tidak menghibur Petrus dengan kata-kata halus. Dia langsung membalikkan badan dan berkata:

"Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."

Maknanya: Yesus bersikap keras di sini karena Petrus, tanpa sadar, sedang menjadi alat untuk menggagalkan rencana keselamatan Allah. Yesus mengasihi Petrus, tetapi Dia tidak menoleransi kompromi yang merusak misi ilahi. Ketegasan ini mengajarkan kita untuk berani berkata "tidak" secara mutlak ketika ada hal-hal yang mulai menjauhkan kita atau orang lain dari kehendak Allah, meskipun itu datang dari orang terdekat.


2. Mengusir Penjual di Bait Allah (Yohanes 2:13-22 & Matius 21:12-17)

Yesus membuat cambuk dari tali, membalikkan meja-meja penukar uang, dan mengusir mereka semua keluar dari pelataran Bait Allah. Apakah Dia berteriak dengan nada tinggi? Ya, tentu saja. Tindakan membalikkan meja dan mengusir kerumunan besar tidak mungkin dilakukan dengan bisikan lembut. Dia berseru: "Rumah-Ku akan disebut rumah doa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun!"

Maknanya: Ini adalah holy anger (kemarahan yang kudus). Yesus keras karena ada sistem yang korup di dalam rumah Allah yang mengeksploitasi orang-orang miskin yang ingin beribadah. Ketika kekudusan Allah diinjak-injak dan keadilan sosial dilanggar demi keuntungan pribadi berkedok agama, Yesus tidak tinggal diam.


3. Mengecam Ahli Taurat dan Orang Farisi (Matius 23)

Dalam satu khotbah panjang, Yesus berulang kali meneriakkan kata: "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik!" Dia bahkan menyebut mereka "ular beludak" dan "kuburan berkapur putih".

Maknanya: Yesus membenci kemunafikan religius—orang-orang yang terlihat suci di luar tetapi busuk di dalam, serta membebani orang lain dengan aturan-aturan yang mereka sendiri tidak lakukan. Ketegasan Yesus di sini bertujuan untuk membongkar topeng kesalehan palsu agar orang-orang tersebut sadar dan bertobat.


Memahami Batasan Melalui Matius 12:19

Melihat Yesus yang bisa berteriak dan bertindak keras, pertanyaannya adalah: Di mana batasannya agar ketegasan kita tidak berubah menjadi dosa atau amarah kedagingan?

Jawabannya ada di dalam Matius 12:19, yang merupakan nubuat nabi Yesaya tentang karakter Mesias:

"Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak, suara-Nya tidak akan didengar orang di jalan-jalan."

Sekilas, ayat ini terasa kontradiktif. Bagaimana mungkin Yesus dikatakan "tidak akan berteriak" padahal Dia berteriak saat mengusir orang di Bait Allah? Rahasianya ada pada makna kata dalam bahasa asli Yunani Alkitab:

  • "Berbantah" (Bahasa Yunani: Erizo): Artinya bertengkar, berdebat kusir, atau adu mulut yang didorong oleh persaingan, ego, atau keinginan untuk menang sendiri. Yesus tidak pernah bersikap tegas hanya karena ego-Nya terluka atau ingin pamer kuasa.
  • "Berteriak" (Bahasa Yunani: Kraugazo): Merujuk pada teriakan yang kacau, histeris, atau kegaduhan seperti demonstrasi massa yang kehilangan kendali, atau teriakan bising orang yang sedang mengamuk di jalanan untuk mencari perhatian.


Batasan Tegas dan Keras Bagi Kita:

Melalui makna teks aslinya, kita tahu bahwa Yesus raised His voice (meninggikan suara-Nya) demi menegakkan kebenaran dan keadilan yang terukur, bukan karena kehilangan kontrol diri (lost control).

Kita BISA Bersikap Tegas & Keras Jika...Kita TIDAK BOLEH Keras Jika...
Demi membela kebenaran Firman Allah.Didorong oleh ego, gengsi, atau sakit hati pribadi.
Untuk melindungi orang lemah dari ketidakadilan.Berubah menjadi makian kasar yang merendahkan martabat orang.
Bertujuan menuntun orang pada pertobatan.Berupa debat kusir (erizo) yang hanya ingin membuktikan kita paling benar.

Suara Keras Yesus dalam Kitab Wahyu

Ketegasan Yesus tidak berhenti setelah Dia naik ke surga. Dalam Kitab Wahyu, Yesus yang telah dimuliakan berbicara kepada jemaat-jemaat-Nya dengan nada yang sangat serius dan tanpa basa-basi.

  • Kepada Jemaat Efesus (Wahyu 2:4-5): "Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah..."
  • Kepada Jemaat Laodikea (Wahyu 3:15-16): "Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas... Jadi karena engkau suam-suam kuku... Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku."

Kata "memuntahkan" adalah ekspresi yang sangat keras dan ekstrem. Ini menunjukkan bahwa Yesus tidak menyukai kekristenan yang setengah hati atau suam-suam kuku.

Namun, perhatikan apa yang Yesus katakan tepat setelah kalimat-kalimat keras-Nya di Wahyu 3:19:

"Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!"


Kesimpulan

Sikap tegas dan keras Yesus adalah ekspresi tertinggi dari kasih-Nya. Dia tidak ingin kita binasa dalam kenyamanan dosa atau kepalsuan hidup.

Sebagai orang percaya, kita perlu belajar memiliki keberanian seperti Yesus. Jangan menjadi orang Kristen yang pasif dan takut bersuara ketika melihat kebenaran diinjak-injak. Namun, pastikan bahwa ketika kita harus bersikap tegas dan keras, dasar kita adalah kasih akan kebenaran dan keselamatan sesama, bukan luapan emosi kedagingan yang tidak terkontrol. Tegaslah dengan hati yang tetap melekat pada Kristus.

Awan (Andreas Hermawan)

Komentar

Postingan Populer