Apakah Benar Raja Daud Diskriminatif dan Membenci Orang Difabel?
2 Samuel 5:8 (TB) Daud telah berkata pada waktu itu: "Siapa yang hendak memukul kalah orang Yebus, haruslah ia masuk melalui saluran air itu; hati Daud benci kepada orang-orang timpang dan orang-orang buta." Sebab itu orang berkata: "Orang-orang buta dan orang-orang timpang tidak boleh masuk bait."
Memang, jika ayat di atas dibaca sekilas tanpa konteks sejarah, pernyataan Daud tentang "orang-orang buta dan orang-orang timpang" itu terdengar sangat kasar dan diskriminatif.
Namun, untuk memahami apakah Daud benar-benar sombong atau membenci orang difabel, kita perlu melihat konteks perang dan budaya saat itu. Mari kita bedah faktanya:
1. Ejekan (Taunting) dari Orang Jebus
Sebelum Daud mengucapkan kalimat itu, orang Jebus (penduduk asli Yerusalem) mengejek Daud. Yerusalem adalah kota benteng yang sangat kuat. Mereka berkata kepada Daud:
"Engkau tidak boleh masuk ke mari; orang-orang buta dan orang-orang timpang pun akan mengenyahkan engkau!" (2 Samuel 5:6)
Artinya, orang Jebus sangat sombong. Mereka merasa benteng mereka begitu mustahil ditembus sampai-sampai mereka mengklaim bahwa "orang buta dan lumpuh pun cukup untuk menjaga gerbang agar Daud tidak bisa masuk." Merekalah yang pertama kali menggunakan kondisi fisik orang buta dan timpang sebagai bahan ejekan dan penghinaan terhadap kemampuan militer Daud.
2. Membalas Ejekan dengan Bahasa Militer
Ketika Daud berkata, "Siapa yang hendak memukul orang Jebus, haruslah ia masuk melalui saluran air; hati Daud benci kepada orang-orang timpang dan orang-orang buta," Daud sebenarnya sedang mengutip balik kata-kata musuhnya.
- Bukan kebencian personal: "Orang buta dan timpang" di sini menjadi julukan atau term untuk para pembela benteng Jebus yang sombong tadi.
- Retorika Perang: Daud menggunakan sarkasme. Karena orang Jebus bilang "orang buta kami pun bisa menang melawanmu," maka Daud menjawab dengan, "Baik, kalau begitu aku akan menyerang 'orang buta' kalian itu."
3. Bukti Kontradiktif: Kasih Daud kepada Mefiboset
Jika Daud benar-benar seorang diskriminator yang membenci penyandang disabilitas, maka tindakan dia di 2 Samuel 9 tidak akan pernah terjadi.
Daud mencari keturunan Saul yang masih hidup untuk menunjukkan kasih setianya. Ia menemukan Mefiboset, putra Yonatan, yang lumpuh kedua kakinya.
Tindakan Daud: Alih-alih merendahkannya, Daud mengembalikan seluruh tanah milik kakeknya (Saul) dan mengundang Mefiboset untuk makan sehidangan dengan raja seumur hidupnya.
Ini adalah kehormatan tertinggi yang bisa diberikan raja kepada seseorang. Ini membuktikan bahwa hati Daud tidak memiliki kebencian terhadap orang cacat.
Kesimpulan
Daud tidak sedang melakukan diskriminasi sosial. Kalimat di 2 Samuel 5:8 adalah respons emosional dan strategis terhadap arogansi militer orang Jebus. Hati Daud yang sebenarnya terhadap mereka yang lemah justru terlihat jelas melalui hubungannya dengan Mefiboset, di mana ia menunjukkan penerimaan dan kasih yang luar biasa tanpa memandang fisik.
Jadi, Daud tidak sombong terhadap orang difabel; dia hanya sedang memenangkan perang psikologis melawan musuh yang sombong.
Awan (Andreas Hermawan)

Komentar
Posting Komentar