Di era modern ini, kita sering kali melihat atmosfer ibadah yang begitu membara. Musik yang megah, pencahayaan yang mendukung, dan kerinduan jemaat untuk merasakan hadirat Tuhan adalah hal yang indah. Namun, di tengah euforia spiritual ini, ada satu fenomena yang kerap memicu salah paham massal: bahasa roh.
Banyak orang Kristen zaman sekarang terjebak dalam pemikiran bahwa bahasa roh adalah sebuah "keterampilan" yang bisa dipelajari, dilatih, atau bahkan ditiru. Akibatnya, yang terdengar sering kali bukanlah sebuah bahasa, melainkan mumbling—gumaman monoton yang diulang-ulang tanpa arti.
Saya menulis ini bukan karena saya tidak mengerti bahasa roh, tapi karena saya sendiri juga berbahasa roh dan mengerti bahwa bahasa roh itu kalau "keluar", tidak hanya terdiri dari 2-4 suku kata saja, tapi kompleks lengkap selayaknya bahasa yang sesungguhnya.
Mari kita bedah hal ini dengan jernih dan Alkitabiah, agar kita tidak menipu diri sendiri, apalagi masuk ke dalam perangkap tipu muslihat Iblis.
1. Karunia Ilahi, Bukan Kursus Bahasa Kilat
Satu kekeliruan terbesar hari ini adalah adanya "panduan" atau ajakan untuk menirukan suku kata tertentu agar bisa berbahasa roh. Ingat ini baik-baik: Bahasa roh adalah karunia Roh Kudus, bukan hasil latihan vokal.
- Ada strukturnya: Sebuah bahasa—secara linguistik maupun spiritual—memiliki struktur, variasi, dan esensi. Bahasa tidak pernah monoton. Jika seseorang hanya mengucapkan dua atau tiga suku kata yang sama secara berulang-ulang selama berjam-jam, itu bukan bahasa, melainkan gejala psikologis.
- Diberikan secara berdaulat: Alkitab mencatat bahwa Roh Kudus membagikan karunia kepada setiap orang secara mandiri, seperti yang dikehendaki-Nya (1 Korintus 12:11). Tidak ada satu pun ayat yang menyuruh kita memaksa atau mempelajari karunia tersebut.
1 Korintus 12:11 (TB) Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.
Jika karunia itu bisa dipelajari lewat petunjuk manusia, maka itu bukan lagi karunia roh, melainkan kemampuan produk manusia.
2. Struktur Bahasa: Kompleksitas vs. Monotonitas
Jika kita memperhatikan esensi dari kata "bahasa", sebuah bahasa selalu memiliki struktur, variasi kata, dan kompleksitas tertentu—bahkan jika itu adalah bahasa roh yang tidak dipahami oleh akal budi kita (1 Korintus 14:14).
1 Korintus 14:14 (TB) Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa.
Namun, realita yang sering kita temui hari ini adalah pola suara yang sangat monoton. Sering kali, seseorang hanya mengucapkan 2 hingga 4 suku kata yang itu-itu saja secara berulang-ulang dengan cepat, misalnya: "silaba laba, siraba laba".
Secara psikologis, pengulangan suku kata yang monoton ini bisa terjadi akibat kondisi trance emosional atau tekanan sosial (keinginan untuk dianggap rohani di dalam komunitas). Alkitab tidak pernah menggambarkan bahasa roh sebagai bunyi kososng yang mekanis dan berputar-putar tanpa struktur kata yang jelas.
3. Isinya Menceritakan Perbuatan Besar Allah
Mari kita lihat sejarah awal pencurahan Roh Kudus di hari Pentakosta. Orang-orang dari berbagai bangsa yang berkumpul di Yerusalem terheran-heran karena mereka bisa memahami apa yang diucapkan oleh para murid Yesus yang sedang penuh dengan Roh Kudus.
"...kita mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah." — Kisah Para Rasul 2:11
Perhatikan frasa "menceritakan perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah". Sebuah cerita, kesaksian, atau proklamasi tentang keagungan Tuhan membutuhkan kekayaan kosakata. Tidak mungkin sebuah narasi agung tentang karya keselamatan dan kemuliaan Allah hanya terdiri dari dua atau tiga suku kata yang diulang ratusan kali. Bahasa roh yang sejati, sekalipun itu merupakan bahasa malaikat, membawa bobot ilahi yang kaya akan pesan penyembahan, bukan sekadar bunyi repetitif tanpa substansi.
4. Logika Doa: Berbicara Kepada Tuhan
Selain bahasa roh dipakai untuk keperluan bersama (massal), ia juga dipakai untuk keperluan pribadi. Rasul Paulus memberikan penjelasan yang sangat jelas mengenai fungsi personal dari karunia ini:
"Siapa yang berkata-kata dalam bahasa roh, ia tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah..." — 1 Korintus 14:2
Esensi dari "berbicara" adalah membangun komunikasi. Ketika kita berdoa dan berbicara kepada Tuhan dalam roh, roh kita sedang berdialog secara intim dengan Sang Pencipta. Sekarang, mari kita gunakan logika sehat yang Tuhan berikan: Jika Anda berbicara dengan seseorang yang paling Anda hormati dan kasihi di dunia ini, apakah Anda akan mendatangi mereka dan hanya mengucapkan beberapa suku kata monoton yang sama selama setengah jam? Tentu tidak.
5. Fenomena Universal: Emosi yang Menyamar Jadi Spiritual
Kita perlu bersikap jujur dan objektif. Fenomena gumaman cepat atau mumbling saat berada dalam kondisi trans (ketidaksadaran/trance) bukanlah hanya terjadi pada orang Kristen.
Secara ilmiah dan antropologis, hal ini disebut glossolalia non-religius yang dipicu oleh luapan emosi yang ekstrem. Fenomena serupa terjadi pada:
- Komunitas meditasi tertentu atau praktisi Yoga tingkat lanjut saat mencapai puncak energi.
- Ritual-ritual suku pedalaman atau kultus mistis saat mereka kerasukan atau mengalami histeria massa.
- Konser-konser musik sekuler di mana penonton mengalami katarsis emosional yang meluap-luap.
Ketika emosi manusia mencapai titik jenuhnya, otak bisa melepaskan kendali verbal, menghasilkan suara-suara repetitif. Jadi, jika "bahasa roh" kita hanya muncul karena terbawa suasana musik yang melankolis atau dorongan psikologis kelompok, kita sedang mengalami luapan emosi, bukan kepenuhan Roh Kudus.
4. Strategi Iblis: Pemalsuan yang Meninabobokan
Mengapa hal ini berbahaya? Karena Iblis adalah bapa segala dusta, dan salah satu strategi favoritnya adalah membuat pemalsuan yang mirip dengan yang asli (counterfeit).
Ketika seorang Kristen merasa sudah bisa "berbahasa roh" (padahal hanya tiruan atau emosi belaka), ia akan masuk ke dalam beberapa jebakan Batman rohani:
- Sombong Rohani: Merasa dirinya lebih suci, lebih karismatik, atau lebih dekat dengan Tuhan dibanding orang lain yang tidak memilikinya.
- Puas Diri yang Semu: Merasa kehidupan rohaninya aman-aman saja hanya karena manifestasi luar, padahal karakter dan buah rohnya (kasih, penguasaan diri, kejujuran) justru sedang merosot.
- Mengabaikan Firman: Lebih mengejar sensasi merinding dan pengalaman mistis ketimbang merenungkan dan menaati kebenaran Firman Tuhan.
Iblis sangat senang jika fokus kita beralih dari Kristus sang Giver kepada sensasi karunia.
Catatan Penting: Meluruskan Sudut Pandang (Sebuah Catatan Kasih, Bukan Penghakiman)
Perlu digarisbawahi dengan sangat jelas agar tidak terjadi salah paham: ketika kita membahas tentang fenomena mumbling atau gumaman di tengah jemaat, ini sama sekali bukan berarti mereka yang melakukannya sedang kerasukan setan atau digerakkan oleh roh jahat.
Kita harus bijak dan proporsional dalam menilai hal ini. Ada perbedaan besar antara manifestasi roh jahat dan murni respons psikologis manusia. Apa yang terjadi pada sebagian besar jemaat hari ini umumnya bersumber dari kombinasi dua hal:
- Luapan Emosi yang Jujur: Banyak dari mereka adalah orang-orang yang tulus mengasihi Tuhan. Saat berada dalam atmosfer ibadah yang intim atau syahdu, emosi mereka meluap, dan secara psikologis suara mereka merespons dorongan emosional tersebut secara spontan. Ini adalah ekspresi psikologis, bukan supranatural (baik dari Tuhan maupun dari setan).
- Ketidaktahuan (Kurangnya Pemahaman): Banyak jemaat yang belum pernah mendapatkan pengajaran yang utuh, sehat, dan Alkitabiah tentang esensi karunia lidah. Karena melihat orang lain melakukannya, atau karena pernah diajarkan bahwa "beginilah cara memulainya," mereka pun ikut menirukannya tanpa ada maksud buruk sedikit pun.
Jadi, tulisan ini sama sekali tidak bertujuan untuk menghakimi, menuding, atau memberi cap negatif kepada saudara-saudari seiman kita yang mungkin masih mempraktikkan hal ini. Mereka melakukannya bukan karena berniat sesat, melainkan karena ketidaktahuan yang dibungkus oleh emosi yang meluap.
Tujuan kita adalah mengedukasi dengan kasih, bukan mengutuk atau menyudutkan. Mereka tidak butuh diusir setan, melainkan membutuhkan bimbingan dan pengajaran Firman yang sehat. Dengan begitu, ekspresi kasih mereka kepada Tuhan tidak lagi sekadar menjadi luapan emosi psikologis yang monoton, melainkan naik kelas menjadi penyembahan yang lahir dari roh dan kebenaran yang seutuhnya.
1 Korintus 14:33, 40 (TB) Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera... Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.
Awan (Andreas Hermawan)
