Pria Single Terus-menerus Memandangi Dengan Birahi Wanita Single Lainnya, Apa Termasuk Dosa?


"Dalam Matius 5:28, bagaimana jika seseorang yang belum menikah memandang seorang perempuan atau laki-laki dengan birahi, terus menerus menikmati apa yang dilihat, apakah sudah termasuk dosa?"

Matius 5:28 (TB)  Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.

Pertanyaan ini sangat menarik karena menyentuh aspek teknis bahasa asli yang sering menjadi perdebatan di kalangan teolog. Jika kita merujuk pada teks asli Matius 5:28, ada beberapa poin penting untuk menjawab apakah hal tersebut termasuk dosa bagi orang yang belum menikah.

​Teks asli Matius 5:28 berbunyi:

​“πᾶς ὁ βλέπων γυναῖκα πρὸς τὸ ἐπιθυμῆσαι αὐτὴν ἤδη ἐμοίχευσεν αὐτὴν ἐν τῇ καρδίᾳ αὐτοῦ.”

​Berikut adalah analisis mendalamnya:


​1. Arti Kata Emoicheusen (Berzinah)

​Yesus secara spesifik menggunakan kata "emoicheusen" (dari akar kata moicheia), yang secara teknis berarti perzinahan. Seperti yang kita bahas di artikel sebelumnya, perzinahan biasanya melibatkan orang yang sudah menikah.

​Secara hukum teknis, jika seorang lajang memandang lajang lainnya dengan birahi, beberapa penafsir berpendapat itu bukan moicheia (perzinahan) karena tidak ada perjanjian pernikahan yang dilanggar. Namun, pandangan ini dianggap terlalu sempit jika kita melihat tujuan khotbah Yesus.


​2. Konsep Epithumia (Birahi/Keinginan)

​Kata kunci dalam ayat ini adalah "epithumēsai".

  • Arti: Keinginan yang sangat kuat, nafsu, atau birahi yang mendalam.
  • Tindakan: Kata "pros to" (untuk / dengan tujuan) menunjukkan bahwa ini bukan sekadar kekaguman visual yang tidak sengaja, melainkan tindakan memandang yang dilakukan dengan sengaja untuk membangkitkan nafsu atau "menikmati" orang tersebut di dalam pikiran.

​Bagi seseorang yang belum menikah, meskipun secara teknis belum ada "perjanjian nikah" yang dikhianati, tindakan memupuk birahi secara terus-menerus ini tetap dikategorikan sebagai dosa dalam Alkitab. Mengapa? Karena hal ini jatuh ke dalam kategori Porneia (percabulan/imoralitas seksual).


​3. Hati sebagai Sumber Tindakan

​Inti dari ajaran Yesus di Matius 5 adalah internalisasi hukum. Yesus sedang mengajarkan bahwa Allah tidak hanya melihat tindakan fisik, tetapi juga kondisi hati.

​Jika perzinahan fisik adalah dosa, maka "akarnya" (yaitu birahi di hati) juga adalah dosa.

​Bagi orang lajang, meskipun dia belum berzinah secara fisik (moicheia), membiarkan pikiran dipenuhi birahi yang terus-menerus adalah bentuk ketidakkudusan.

​Dalam pandangan Alkitabiah, tubuh dan pikiran orang percaya adalah bait Roh Kudus (1 Korintus 6:19). Menikmati birahi di dalam pikiran dianggap sebagai penggunaan fungsi seksual di luar desain Allah (yaitu dalam ikatan pernikahan).

1 Korintus 6:19 (TB)  Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 

Kesimpulan: Apakah Itu Dosa bagi yang Belum Menikah?

​Ya, tetap dianggap dosa. Alasannya:

  1. Pelanggaran Kekudusan: Meskipun secara teknis bukan moicheia (perzinahan), itu adalah porneia (percabulan dalam pikiran).
  2. Objektifikasi: Menikmati seseorang dalam pikiran berarti menjadikan orang tersebut sebagai objek pemuas nafsu, bukan sebagai sesama manusia yang diciptakan menurut gambar Allah.
  3. Akar dari Perbuatan: Yesus menegaskan bahwa apa yang keluar dari hati itulah yang menajiskan orang (Matius 15:19), dan daftar tersebut mencakup percabulan (porneia) dan perzinahan (moicheia).

Perbedaan "Melihat" vs "Memandang dengan Birahi"

​Penting untuk membedakan antara:

  • Melihat (Aisthesis): Menyadari seseorang itu menarik atau cantik/tampan (ini manusiawi dan netral).
  • Memandang dengan Birahi (Epithumia): Terus-menerus menikmati bayangan seksual atau fantasi tentang orang tersebut di dalam pikiran. Inilah yang disebut dosa.

Solusi Rasul Paulus Bagi Para Lajang Dalam Menghadapi Godaan Seksual Ini

Dalam 1 Korintus 7, Rasul Paulus memberikan jawaban yang sangat realistis dan tidak menghakimi mengenai dorongan seksual. Ia memahami bahwa manusia memiliki kebutuhan biologis dan emosional, namun ia juga ingin memastikan bahwa fokus utama kehidupan orang percaya tetap pada Tuhan.

​Berikut adalah solusi praktis dari Paulus berdasarkan teks aslinya:


​1. Prinsip "Karunia" (Charisma)

​Paulus memulai dengan mengakui bahwa setiap orang memiliki kondisi yang berbeda.

1 Korintus 7:7 (TB)  Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.

Teks Asli: Ia menggunakan kata "charisma" (1 Kor 7:7) untuk menggambarkan baik status lajang maupun menikah.

Makna: Hidup lajang (selibat) bukan sekadar "nasib", melainkan karunia untuk melayani tanpa gangguan. Namun, Paulus mengakui tidak semua orang memiliki karunia ini. Jika seseorang terus-menerus berjuang dengan dorongan seksual yang menyiksa, itu adalah tanda bahwa karunianya mungkin bukan untuk tetap melajang selamanya.


​2. Solusi Utama: Pernikahan sebagai "Benteng"

​Paulus tidak menyarankan penindasan nafsu yang ekstrem atau penyangkalan diri yang menyiksa.

Teks Asli: "Tetapi mengingat bahaya percabulan (porneia), baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri..." (1 Kor 7:2).

Solusi Praktis: Pernikahan adalah wadah kudus yang Allah sediakan untuk menyalurkan dorongan seksual. Paulus sangat praktis di sini: daripada jatuh ke dalam dosa di luar nikah, lebih baik menikah secara sah.


​3. Menghadapi "Api" Nafsu (Pyrousthai)

​Salah satu ayat yang paling terkenal adalah 1 Korintus 7:9: "Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu."

Teks Asli: Kata "hangus" menggunakan kata "pyrousthai". Ini bukan sekadar merasa hangat, tetapi seperti api yang berkobar dan sulit dikendalikan.

Analisis: Jika dorongan seksual sudah sampai pada tahap "membakar" pikiran (mengganggu fokus pelayanan, mengganggu kedamaian batin, dan terus-menerus membawa pada dosa pikiran), maka solusi praktis Paulus adalah mencari pasangan hidup.


​4. Penguasaan Diri (Egkrateia)

​Bagi mereka yang memilih atau sedang dalam masa lajang, Paulus menekankan pentingnya egkrateia.

Makna: Ini bukan sekadar menahan diri, tetapi memiliki "kekuasaan atas diri sendiri".

Aplikasi: Paulus menyarankan orang lajang untuk memusatkan perhatian pada "perkara Tuhan" (1 Kor 7:32). Solusi praktisnya adalah pengalihan fokus. Dorongan seksual sering kali membesar saat seseorang tidak memiliki kesibukan atau tujuan yang jelas. Dengan menyibukkan diri dalam pelayanan atau pekerjaan Tuhan, energi tersebut dialihkan menjadi produktivitas rohani.

Awan (Andreas Hermawan)

Komentar

Postingan Populer