Materi Belajar Alkitab: Pemuridan
Menurut Anda, apakah ada perbedaan antara menjadi orang Kristen dengan menjadi murid Yesus?
Apakah keduanya memiliki komitmen yang berbeda?
Dalam pandangan modern, sering kali kita membedakan antara "Kristen" (orang yang beragama Kristen) dan "Murid" (orang yang sangat berkomitmen). Namun, secara alkitabiah, keduanya adalah hal yang sama.
ISTILAH
1. Identitas yang Sama: Murid = Kristen
Banyak orang saat ini menganggap menjadi Kristen hanyalah status administratif atau sekadar "percaya", sementara menjadi murid adalah "level lanjut". Namun, Alkitab tidak mengenal pemisahan ini.
Penyebutan dalam Alkitab: Kata "murid" muncul lebih dari 260 kali di Perjanjian Baru, sementara kata "Kristen" hanya muncul 3 kali. Ini menunjukkan bahwa identitas utama orang percaya adalah sebagai murid.
Satu Komitmen: Tidak ada "Kristen jalur santai" dan "Murid jalur serius". Setiap orang yang menerima Yesus sebagai Juruselamat juga menerima-Nya sebagai Tuhan (Lord). Menerima Yesus berarti bersedia dididik (dimuridkan) oleh-Nya.
Kesimpulannya: Menjadi Kristen tanpa menjadi murid adalah sebuah kontradiksi. Jika Anda mengaku Kristen, maka Anda adalah seorang murid yang sedang belajar taat.
2. Riwayat Munculnya Julukan "Kristen"
Nama "Kristen" tidak diciptakan oleh Yesus maupun para rasul untuk diri mereka sendiri. Nama ini muncul dari pengamatan orang luar.
A. Pertama Kali di Antiokhia (Kisah Para Rasul 11:26)
Setelah penganiayaan di Yerusalem, para murid tersebar hingga ke Antiokhia. Di sana, mereka terus mengajar dan hidup meneladani Yesus.
Asal Kata: Christianos (Yunani), berasal dari kata Christos (Kristus) dengan akhiran Latin -ianos yang berarti "pengikut" atau "milik dari".
Arti Harfiah: "Orang-orang Kristus" atau "Kristus-Kristus Kecil".
B. Sebuah Ejekan yang Menjadi Kehormatan
Pada awalnya, julukan ini kemungkinan besar digunakan sebagai ejekan atau cemoohan oleh penduduk Antiokhia yang melihat perilaku para murid yang "aneh" karena selalu berbicara tentang Kristus dan hidup menurut cara Kristus.
Orang-orang di Antiokhia dikenal suka memberi julukan lucu atau menghina kepada kelompok tertentu.
Namun, para murid tidak malu. Mereka justru memakai nama itu dengan bangga karena menunjukkan bahwa identitas mereka telah menyatu dengan Sang Guru.
APA ITU PEMURIDAN?
Secara alkitabiah, pemuridan bukan sekadar kelas atau kurikulum, melainkan proses seumur hidup di mana seorang percaya belajar untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus.
Definisi: Kata "murid" (Yunani: Mathetes) berarti seorang "pelajar" atau "pengikut".
Inti Pemuridan: Hubungan yang sengaja antara seorang mentor (pemurid) dan murid untuk bertumbuh dalam ketaatan kepada Allah.
1. Panggilan Menjadi Murid (Matius 28:18-20)
Perintah utama Yesus sebelum naik ke surga adalah Amanat Agung. Ini adalah mandat bagi setiap orang percaya, bukan hanya pendeta atau penginjil.
Tiga Komponen Amanat Agung:
- Pergi: Menjangkau orang di mana pun mereka berada.
- Membaptis: Membawa orang ke dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal dan komunitas gereja.
- Mengajar: Bukan sekadar transfer ilmu, tapi mengajarkan mereka untuk melakukan (mentaati) perintah Yesus.
2. Syarat Menjadi Murid Yesus
Lukas 9:23 (TB) Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
Markus 8:34 (TB) Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
Yesus memberikan standar yang tinggi bagi mereka yang ingin mengikut-Nya. Ini dikatakan bukan hanya kepada muridNya saja (Mar 8:23).
Berdasarkan Lukas 9:23, ada tiga langkah praktis:
- Menyangkal Diri: Meletakkan kehendak pribadi di bawah kehendak Tuhan.
- Memikul Salib: Bersedia menderita atau berkorban demi iman dan kebenaran. Juga lambang mematikan kedagingan.
- Mengikut Yesus: Menjadikan Yesus sebagai teladan utama dalam cara berpikir, berbicara, dan bertindak.
Bagaimana dengan Anda?
3. Mengapa Pemuridan Penting?
Kedewasaan Rohani: Tanpa pemuridan, kita tetap menjadi "bayi rohani" yang mudah diombang-ambingkan dunia.
Multiplikasi: Pemuridan bertujuan agar murid tersebut nantinya bisa memuridkan orang lain lagi (2 Timotius 2:2).
Transformasi Komunitas: Murid yang taat membawa dampak positif bagi keluarga, pekerjaan, dan lingkungan sekitar.
BEDANYA PENGIKUT DENGAN MURID
Ada satu momen krusial dalam pelayanan Yesus di mana garis pemisah antara "orang banyak yang tertarik" dan "murid yang berkomitmen" terlihat sangat jelas. Peristiwa ini dicatat secara mendalam dalam Yohanes 6.
1. Motivasi: Mencari Roti vs Mencari Hidup (Yohanes 6:26)
Yesus baru saja melakukan mujizat memberi makan 5.000 orang. Orang banyak mengejar-Nya bukan karena mengerti makna rohaninya, tapi karena keuntungan fisik.
Yohanes 6:26 (TB) Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.
Pengikut: Mencari Yesus untuk apa yang bisa mereka dapatkan (berkat, kesembuhan, kenyamanan).
Murid: Mencari Yesus karena siapa Diri-Nya (Sang Roti Hidup).
2. Respon terhadap Ajaran yang Keras (Yohanes 6:60 & 66)
Ketika Yesus mulai mengajarkan tentang komitmen total dan pengorbanan-Nya (makan daging dan minum darah-Nya secara metaforis), banyak pengikut-Nya yang merasa terganggu.
Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid-Nya berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang dapat menerimanya?" (Ayat 60)
Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. (Ayat 66)
Pengikut: Akan berhenti mengikuti ketika ajaran Yesus mulai menuntut perubahan gaya hidup, teguran dosa, atau sulit dicerna secara logika.
Murid: Tetap tinggal meskipun mereka tidak selalu paham sepenuhnya, karena mereka percaya pada otoritas Yesus.
3. Kesetiaan dalam Krisis (Yohanes 6:67-68)
Setelah massa yang besar itu pergi, Yesus bertanya kepada kedua belas rasul-Nya. Di sinilah definisi "Murid Sejati" muncul melalui jawaban Petrus.
Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal."
Pengikut: Memiliki mentalitas "pengunjung". Jika suasana tidak enak, mereka pergi mencari tempat lain.
Murid: Memiliki mentalitas "pengabdi". Mereka tidak punya rencana cadangan (Plan B) karena mereka tahu hanya di dalam Yesus ada kebenaran.
Referensi Lain: Lukas 14:25-33
Dalam ayat ini, Alkitab mencatat: "Pada suatu kali orang banyak berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka..."
Yesus kemudian menetapkan syarat yang sangat berat (membenci nyawa sendiri, memikul salib). Yesus sengaja "menyaring" orang banyak tersebut untuk menunjukkan bahwa menjadi pengikut yang sekadar mengagumi tidaklah cukup untuk menjadi murid-Nya.
GAYA HIDUP MURID YESUS
Gaya hidup seorang murid Yesus bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan sebuah transformasi total dalam cara berpikir dan bertindak. Dalam tradisi Yahudi abad pertama, seorang murid tidak hanya belajar apa yang diketahui gurunya, tetapi belajar untuk menjadi seperti gurunya.
Berikut adalah pola atau gaya hidup utama seorang murid Yesus berdasarkan prinsip Alkitab:
1. Menjadikan Kristus sebagai Pusat (Supremasi Kristus)
Pola hidup yang paling mendasar adalah menempatkan Yesus di atas segalanya. Ini bukan berarti mengabaikan keluarga atau pekerjaan, tetapi memastikan bahwa semua keputusan hidup selaras dengan kehendak-Nya.
Ketaatan Radikal: Melakukan apa yang diperintahkan Yesus meskipun sulit atau tidak populer.
Yohanes 14:15 (TB) "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.
Ketergantungan penuh: Menyadari bahwa di luar Kristus, kita tidak bisa berbuat apa-apa.
Yohanes 15:5 (TB) Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
2. Gaya Hidup Belajar (Disiplin Rohani)
Seorang murid adalah seorang pembelajar seumur hidup. Pola ini mencakup:
- Bertekun dalam Firman: Bukan sekadar membaca, tapi merenungkan dan menghidupi isi Alkitab (Yohanes 8:31).
Yohanes 8:31 (TB) Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku
- Kehidupan Doa yang Intim: Berkomunikasi secara teratur dengan Tuhan, meneladani Yesus yang sering mengasingkan diri untuk berdoa (Lukas 5:16).
Lukas 5:16 (TB) Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.
3. Gaya Hidup Menyangkal Diri dan Pikul Salib
Ini adalah pola yang membedakan murid sejati dengan sekadar pengikut (Lukas 9:23):
Menyangkal Diri: Berhenti menjadikan "ego" atau keinginan pribadi sebagai raja.
Memikul Salib: Siap menanggung konsekuensi, tantangan, atau penderitaan demi iman kepada Kristus. Termasuk mematikan kedagingannya setiap hari.
4. Gaya Hidup Kasih dan Pelayanan (Servant Leadership)
Murid Yesus dikenal dari cara mereka memperlakukan orang lain:
- Saling Mengasihi: Menjadi tanda pengenal utama murid (Yohanes 13:34-35).
- Melayani, Bukan Dilayani: Murid Yesus mencari cara untuk memberi dampak dan membantu sesama, bukan mencari kehormatan (Markus 10:43-45).
- Pengampunan: Memiliki pola hidup yang cepat mengampuni orang lain, sebagaimana Kristus telah mengampuni kita.
5. Gaya Hidup Komunitas (Persekutuan)
Murid Yesus tidak hidup sendirian. Pola hidupnya selalu melibatkan orang percaya lainnya (Kisah Para Rasul 2:42-47):
- Saling Membangun: Terlibat dalam komunitas (gereja atau kelompok kecil) untuk saling menguatkan, menegur, dan mendoakan.
- Akuntabilitas: Bersedia membuka diri untuk dididik dan ditegur oleh saudara seiman.
Ibrani 10:25 (TB) Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.
6. Gaya Hidup Misi (Multiplikasi)
Murid yang sehat akan menghasilkan murid baru. Ini adalah pola hidup yang berfokus ke luar:
- Menjadi Saksi: Membagikan Injil melalui perkataan dan perbuatan di mana pun mereka berada (kantor, sekolah, rumah).
- Memuridkan Orang Lain: Membantu orang lain untuk juga bertumbuh mengenal dan mengikuti Yesus (Matius 28:19).
Awan (Andreas Hermawan)

Komentar
Posting Komentar